Nganjuk, LINGKARWILIS.COM β Program Unit Pengolah Pupuk Organik (UPPO) yang bertujuan mendorong petani memproduksi pupuk organik secara mandiri gagal diimplementasikan oleh Kelompok Tani Tani Mulyo di Dusun Kalianjok, Desa Bulu, Kecamatan Berbek, Kabupaten Nganjuk.
Kelompok tani ini mendapatkan bantuan UPPO tahun 2021 senilai Rp200 juta yang dialokasikan untuk pembangunan gudang, kandang, kendaraan roda tiga, mesin pengolah pupuk, serta pengadaan 8 ekor sapi. Namun, hingga kini, program tidak berjalan dan sapi yang awalnya berjumlah 8 ekor, kini tersisa hanya 2 ekor.
Samuji, pengelola UPPO Tani Mulyo, mengaku program ini tidak berfungsi karena enam ekor sapi mati akibat wabah PMK. Selain itu, pupuk organik pun tidak pernah diproduksi, dengan alasan petani setempat tetap memilih pupuk kimia.
Baca juga :Β Disparbud Kabupaten Kediri Tetap Dukung Kegiatan Budaya di Tengah Efisiensi
“Dari 2021 sampai sekarang, kami belum pernah memproduksi pupuk organik. Kotoran sapi hanya menumpuk di kandang karena petani di sini tidak mau menggunakan pupuk organik,” ujar Samuji, Kamis (6/3/2025).
Menanggapi hal ini, Hamid Efendi, seorang aktivis LSM di Nganjuk, menilai bahwa program UPPO di Desa Bulu telah gagal. Mesin pengolah pupuk tidak difungsikan, sementara penggunaan pupuk kimia terus berlanjut.
“Saya katakan gagal karena mesin tidak berfungsi dan petani di sana tetap memilih pupuk kimia. Selain itu, banyak sapi dalam program ini yang diduga hilang, bukan sekadar mati karena PMK,” kata Hamid.
Baca juga :Β Polisi Gagalkan Perang Sarung di Kediri, Tiga Remaja Diamankan
Ia pun menduga kasus serupa terjadi di berbagai wilayah Kabupaten Nganjuk, sehingga pemerintah diharapkan memperketat pengawasan agar program ini tidak terus mengalami kegagalan.
“Pengawasan yang lemah membuat program ini tidak berjalan maksimal. Jika dibiarkan, program seperti ini hanya akan menjadi pemborosan anggaran,” tutupnya.***
Editor: Muji/Hadiyin





