JAKARTA, LINGKARWILIS.COM β Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus melemah dan kini menyentuh titik terendah sejak krisis ekonomi 1998.
Dilansir dari laman Minanews, tekanan ini dipicu oleh kebijakan tarif baru yang diumumkan oleh Presiden AS Donald Trump, yang menyasar sejumlah negara di Asia Tenggara, termasuk Indonesia.
Pada awal April 2025, Trump menetapkan tarif impor sebesar 32 persen terhadap enam negara kawasan Asia Tenggara. Langkah ini diambil sebagai bagian dari upaya menekan defisit perdagangan dan mendorong pertumbuhan industri dalam negeri AS.
Namun, kebijakan proteksionis tersebut memicu kekhawatiran ekonomi di negara-negara terdampak, termasuk Indonesia.
Sejak pengumuman itu, rupiah mengalami depresiasi tajam dan nyaris menyentuh angka Rp17.000 per dolar AS. Kondisi ini memicu kegelisahan di pasar finansial, baik di dalam negeri maupun di tingkat global.
Baca juga :Β Wabup Kediri Imbau Orang Tua Larang Anak Bermain Petasan: Demi Keselamatan Saat Lebaran
Sebagai respons, Bank Indonesia menyatakan siap melakukan intervensi agresif di pasar valuta asing guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Intervensi dilakukan melalui mekanisme pasar spot, kontrak non-deliverable forward (NDF), serta pasar sekunder obligasi.
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyebut pelemahan rupiah tidak lepas dari kebijakan yang diambil oleh Presiden Trump. Ia mencatat, sejak awal tahun 2025, nilai tukar rupiah cenderung melemah, dari posisi akhir 2024 di angka Rp16.162 per dolar AS menjadi Rp16.340 pada 10 Maret 2025.
Menanggapi situasi ini, Presiden RI Prabowo Subianto menegaskan bahwa Indonesia tidak akan merespons dengan kebijakan balasan. Pemerintah lebih memilih menempuh jalur diplomasi guna menyelesaikan permasalahan secara damai dan saling menguntungkan.
Baca juga :Β Kejari Kabupaten Kediri Belum Menahan JS, Tersangka Kasus Korupsi Program Korporasi Sapi, Ini Kata Kasi Intelijen
Sebagai bagian dari langkah diplomatik, pemerintah tengah mempersiapkan pengiriman delegasi tingkat tinggi ke Washington untuk membuka dialog dan mencari titik temu.
Selain itu, Indonesia mempertimbangkan peningkatan impor sejumlah komoditas AS, seperti kapas, gandum, minyak, dan gas. Opsi pelonggaran hambatan non-tarif serta penurunan pajak terhadap produk-produk AS juga masuk dalam paket usulan negosiasi.***





