PONOROGO, LINGKARWILIS.COM – Serangan hama wereng kembali menghantui petani padi di Kabupaten Ponorogo. Akibatnya, sebagian petani memilih membiarkan tanamannya mati ketimbang merugi karena tingginya biaya penanganan yang tak sebanding dengan hasil panen.
Hal ini salah satunya dialami Ahmad Subkhi, petani asal Kelurahan Bangunsari, Kecamatan Ponorogo. Ia menyebut serangan wereng tahun ini tergolong luar biasa karena menyebar cepat dan merata di banyak lahan.
“Ini sudah seperti kejadian luar biasa. Dalam semalam saja bisa menyebar ke sawah lain. Tanaman yang sebelumnya sehat, tiba-tiba rusak total,” ungkap Subkhi, Kamis (10/7/2025).
Baca juga : PDAM Kota Kediri Beri Diskon Pemasangan Baru Hingga 30 Persen, Berlaku Tiga Bulan
Subkhi menjelaskan, sebagian lahan memang masih bisa diselamatkan. Namun biaya pengendalian hama tergolong tinggi, sehingga banyak petani memilih tidak melakukan perawatan lebih lanjut karena dianggap tidak menguntungkan secara ekonomi.
“Yang bisa diobati ya dirawat, tapi yang sudah parah ya ditinggal. Soalnya biaya pestisida lebih mahal daripada hasil panennya. Akhirnya banyak yang pasrah rugi total,” ujarnya.
Menurut Subkhi, wereng menyerang mulai dari pangkal batang, lalu menghisap cairan tanaman hingga daun dan batang mengering, berubah warna menjadi cokelat dan akhirnya mati. Siklus tersebut terjadi berulang dan sulit dikendalikan jika penanganan terlambat.
“Kalau lambat disemprot, tanaman pasti mati. Awalnya hijau, tapi bisa langsung mengering dan rusak,” tambahnya.
Baca juga : DK4 Apresiasi Pelatihan Film ‘Dari Karya ke Karier’, Dorong Sineas Muda Kediri Angkat Cerita Lokal
Ia berharap pemerintah, terutama dinas pertanian, segera turun tangan dan memberikan bantuan pestisida secara merata. Sebab wabah hama ini telah meluas di berbagai wilayah dan berpotensi mengganggu produktivitas pangan daerah.
“Ini menyangkut stok pangan. Harus ada langkah cepat dari pemerintah, karena hampir semua petani di wilayah sini terdampak,” tegasnya.
Hal senada disampaikan Junaidi, petani lainnya. Menurutnya, faktor cuaca turut memicu wabah wereng yang menyebar dengan cepat.
“Beda sama belalang. Kalau wereng, penyemprotannya harus cepat. Kalau ditunda sedikit saja, bisa habis semua,” katanya.
Petani berharap agar dinas terkait segera bergerak cepat untuk menanggulangi penyebaran wereng sebelum lebih banyak tanaman yang gagal panen.***
Reporter: Sony Dwi Prastyo
Editor: Hadiyin





