Kediri, LINGKARWILIS.COM – Di tengah gempuran zaman dan menjamurnya minuman modern, Bu Parinem (56) seorang perantau asal Sukoharjo, Solo yang tinggal di Lingkungan Kauman kelurahan Kampung Dalem Kota Kediri ini justru tak gentar mempertahankan tradisi.
Sejak 36 tahun lalu, ia menapaki jalan hidup sebagai penjual jamu keliling di Kota Kediri sebuah profesi yang kini semakin langka.
Setiap pagi, tepat pukul 07.30 WIB, ia mulai mengayuh sepeda tuanya dari kawasan Jalan Doho, melintasi Stasiun Kediri hingga Baluwerti.
Dengan dua puluh botol jamu di boncengan berisi kunir asem, beras kencur, dan masih banyak lagi racikan jamu Jawa Bu Parinem menjajakan warisan leluhur itu hingga pukul 17.00 WIB.
Antisipasi Pohon Tumbang, DLHKP Kediri Lakukan Pemangkasan di Jalan Kilisuci
Ia tetap setia menjual jamu tradisional meskipun peminatnya kian menyusut.
“Dulu dagangannya saya gendong pakai rinjing sekarang alhamdulillah bisa naik sepeda sendiri. Meskipun pembeli tidak seramai dulu, saya tetap jualan. Ini bukan sekadar cari uang, tapi juga menjaga tradisi,” tuturnya, Sabtu (19/7/2025) .
Parinem mengaku, tak sedikit pelanggan setianya yang berasal dari generasi lama, namun ada pula anak muda yang mulai penasaran dengan khasiat jamu racikannya.
“Yang penting tetap berusaha. Rezeki sudah ada yang atur, yang penting kita niat baik dan jujur,” imbuhnya sambil membenarkan posisi botol-botol jamunya.
Perjalanan panjang Bu Parinem di Kota Kediri bukan hanya kisah tentang bertahan hidup, tetapi juga bentuk nyata dari cinta terhadap budaya.
Di tengah kota yang terus bergerak cepat, ia hadir sebagai penyeimbang menjaga warisan, dan menyuarakan nilai-nilai kesederhanaan.
Reporter: Agus Sulistyo Budi
Editor: Shadinta Aulia Snajaya






