JOMBANG, LINGKARWILIS.COM – Semangat kreativitas ditunjukkan oleh Samiaji (40), warga Desa Bareng, Kecamatan Bareng, Kabupaten Jombang, yang sukses mengolah limbah rumah tangga menjadi kostum karnaval bertema kerajaan. Menjelang peringatan HUT ke-80 Republik Indonesia, usahanya kebanjiran pesanan.
Kostum-kostum unik ini dibuat dari bahan tak biasa seperti kardus bekas, wadah pasta gigi, kaleng, hingga plastik daur ulang. Samiaji mengaku telah menekuni kerajinan ini sejak tahun 2010, bermula dari keisengan memanfaatkan barang tak terpakai di sekitar rumah. Kini, usahanya berkembang menjadi ladang usaha musiman yang menguntungkan.
“Permintaan paling banyak kostum tema kerajaan. Bahannya macam-macam, ada dari kaleng, kardus, sampai plastik. Harga tergantung model dan kesulitannya, mulai dari Rp200 ribuan sampai lebih dari sejuta per setel,” ujar Samiaji, saat ditemui di rumah produksinya, Senin (4/8/2025).
Baca juga : Pemkab Kediri Gelontorkan Rp 43,2 Miliar untuk Perbaikan 65 Ruas Jalan
Setiap harinya, ia mampu menyelesaikan dua hingga tiga set kostum, tergantung pada desain dan kerumitannya. Tak sekadar menarik secara visual, kostum buatan Samiaji juga membawa pesan kepedulian lingkungan dan edukasi daur ulang.
Kostum-kostum tersebut hadir dalam berbagai model seperti raja, ratu, prajurit, hingga tokoh pewayangan, lengkap dengan detail ornamen dan ukiran yang dibuat dengan teliti—meski seluruhnya berbahan dasar limbah rumah tangga.
Menurut Samiaji, kelebihan produknya terletak pada desain yang kreatif serta harga yang ramah di kantong, membuatnya laris di kalangan pelajar dan kelompok pemuda desa.
“Kami memang menyasar pasar dengan anggaran terbatas, sekaligus ingin mengedukasi masyarakat tentang pentingnya memanfaatkan barang bekas. Jadi bukan cuma hemat, tapi juga punya nilai seni dan edukatif,” tambahnya.
Baca juga : Truk Muat Tebu Tabrak Motor di Simpang Empat Jombang, Rem Blong Diduga Jadi Penyebab
Menjelang perayaan 17 Agustus, rumah Samiaji pun berubah menjadi bengkel kerja mini yang sibuk memproduksi pesanan. Ia berharap, inisiatif ini bisa mendorong masyarakat untuk tetap berkarya dari hal-hal sederhana di sekitar mereka.***
Reporter : Agung Pamungkas
Editor : Hadiyin





