Kediri, LINGKARWILIS.COM — Memasuki awal tahun 2026, Jembatan Brawijaya di Kota Kediri tampil dengan nuansa baru yang lebih megah dan modern. Jembatan Brawijaya Baru atau Jembatan Brawijaya II, yang memiliki panjang sekitar 175 meter dan lebar 10 meter, kini didominasi warna kuning keemasan yang sarat makna historis.
Sentuhan warna tersebut dipilih sebagai simbol kejayaan dan kebesaran Kediri pada masa lampau. Pembaruan tampilan terlihat jelas pada ornamen di pilar penyangga sisi timur dan barat jembatan. Ornamen tersebut dilengkapi aksara Kawi atau kuadrat khas era Kediri kuno berbahan akrilik, yang kerap disalahartikan sekilas sebagai aksara Thailand.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Kediri, Endang Kartika Sari, menjelaskan bahwa proses rehabilitasi pilar jembatan telah rampung. Pekerjaan utama meliputi pemasangan akrilik berbahan plastik polimer transparan (PMMA), instalasi lampu penerangan, serta pemasangan sirap sebagai pelapis atap.
Baca juga : Hadapi Persib Bandung, Pelatih Persik Kediri Akui Waspadai Peran Thom Haye
“Sirap dipasang sebagai pelindung akrilik pada atap shingle agar lebih tahan lama. Selain memperpanjang usia material, tampilannya juga lebih elegan meskipun membutuhkan biaya lebih besar,” ujar Endang, Senin (5/1).
Saat ini, tahap pekerjaan yang masih berlangsung adalah pembersihan sisa material konstruksi. Proses tersebut dilakukan dengan mengutamakan aspek keselamatan, baik bagi pekerja maupun pengguna jalan, serta mengantisipasi potensi jatuhnya material ke badan jembatan.
Endang mengimbau pengendara agar tetap berhati-hati dan mematuhi aturan lalu lintas saat melintas di Jembatan Brawijaya selama proses pembersihan berlangsung.
“Keselamatan pengguna jalan menjadi perhatian utama kami,” tegasnya.
Ia memastikan arus lalu lintas di Jembatan Brawijaya tetap berjalan normal tanpa pemberlakuan sistem buka-tutup jalan. Sejak malam pergantian tahun, jembatan telah dibuka penuh untuk umum.
Pemilihan warna kuning keemasan, lanjut Endang, bukan tanpa alasan. Warna tersebut memiliki filosofi kuat yang merepresentasikan identitas dan sejarah Kediri sebagai pusat kerajaan besar di masa lalu.
Baca juga : Dishub Kediri Berlakukan Jalan Stasiun Satu Arah dan Parkir Terpusat, Warga Balowerti Menolak
“Nuansa kuning keemasan banyak ditemukan pada simbol daerah, seperti figur Buto Locoyo, elemen padi dan kapas, hingga arsitektur tradisional yang mencerminkan karakter historis Kediri,” jelasnya.
Proyek rehabilitasi pilar Jembatan Brawijaya Baru ini menelan anggaran sebesar Rp3,361 miliar yang bersumber dari APBD Kota Kediri dan dikerjakan oleh kontraktor CV Abricons.
Dengan wajah barunya, Jembatan Brawijaya diharapkan semakin memperkuat citra Kota Kediri sekaligus menjadi ikon visual dan destinasi wisata baru yang menarik bagi masyarakat lokal maupun pengunjung dari luar daerah.***
Reporter : Ely Burhan
Editor : Hadiyin






