Tulungagung, LINGKARWILIS.COM – Jumlah siswa yang diduga mengalami keracunan setelah mengonsumsi makanan bergizi gratis (MBG) dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bungur, Tulungagung, dilaporkan bertambah. Penambahan kasus tersebut terungkap setelah Dinas Kesehatan (Dinkes) Tulungagung melakukan survei epidemiologi.
Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Tulungagung, dr. Aris Setiawan, menyampaikan bahwa survei epidemiologi telah dilakukan di SD Negeri 3 Bungur pada Rabu (11/2/2026). Selain itu, tim juga menyasar sejumlah SD lain yang menerima suplai MBG dari SPPG Bungur.
Dari hasil penelusuran tersebut, ditemukan tambahan tiga siswa SDN 3 Bungur yang mengalami gejala serupa. Dinkes juga menerima laporan satu siswa SDN 3 Babadan yang mengeluhkan mual, muntah, pusing, dan lemas.
“Jadi ada tambahan siswa yang diduga mengalami keracunan akibat MBG, dari semula 24 siswa menjadi 28 siswa. Artinya ada tambahan empat siswa,” ujar dr. Aris, Kamis (12/2/2026).
Baca juga : Prajurit TNI dari Koramil 0809/03 Mojoroto Temani Siswa TK A Santa Maria Kediri dalam Giat Outbound
Keempat siswa tersebut langsung dirujuk pihak sekolah ke Puskesmas Karangrejo untuk mendapatkan penanganan medis. Gejala yang dialami masih berupa gangguan pencernaan seperti mual, muntah, pusing, dan lemas.
Namun demikian, para siswa tidak sampai dirujuk ke rumah sakit. Setelah mendapatkan perawatan di puskesmas dan kondisi membaik pada sore harinya, mereka diperbolehkan pulang dan menjalani rawat jalan di rumah.
“Kemarin hanya dirawat di Puskesmas Karangrejo. Sore harinya sudah membaik dan boleh pulang. Tidak perlu dirujuk ke rumah sakit,” jelasnya.
Aris menambahkan, secara teknis terdapat perbedaan waktu munculnya gejala. Jika 24 siswa sebelumnya mengalami keluhan sekitar 30 menit setelah mengonsumsi MBG, empat siswa tambahan ini baru merasakan gejala pada sore hingga malam hari.
Saat ini, sampel menu MBG dari SPPG Bungur telah dikirim ke Balai Besar Laboratorium Kesehatan (BBLK) Surabaya untuk dilakukan uji laboratorium. Hasil survei epidemiologi nantinya akan dikombinasikan dengan hasil uji lab guna memastikan penyebab pasti kejadian tersebut.
Baca juga : Pumping Test Dipercepat, PDAM Kota Kediri Pastikan 19 Sumur Terhindar dari Penertiban Izin Air Tanah
“Kami belum bisa menyimpulkan penyebabnya sebelum hasil uji laboratorium keluar. Dugaan memang mengarah ke ayam suwir, tetapi tetap harus menunggu hasil resmi,” pungkasnya.***
Reporter: Mochammad Sholeh Sirri
Editor: Hadiyin





