BLITAR, LINGKARWILIS.COM – Menjelang Hari Raya Idul Fitri, permintaan gula kelapa atau gula nira mengalami peningkatan signifikan. Kondisi ini menjadi berkah tersendiri bagi para perajin gula kelapa di Kabupaten Blitar.
Salah satunya dirasakan oleh Sulis Imroah, produsen gula kelapa asal Desa Gleduk, Kecamatan Sanankulon. Perempuan berusia 56 tahun itu mengaku permintaan gula kelapa meningkat tajam selama bulan Ramadan.
Dalam kondisi normal, produksi gula kelapa miliknya berkisar sekitar 300 kilogram per hari. Namun selama Ramadan, pesanan meningkat hingga mencapai 0,5 ton atau 500 kilogram per hari.
“Alhamdulillah ada peningkatan. Mungkin digunakan sebagai bahan baku jajanan untuk Lebaran. Kalau ditotal dalam sebulan, produksi bisa meningkat sampai lebih dari 8 ton,” ujar Sulis, Senin (9/3/2026).
Baca juga : Sapa Pagi Polsek Mojoroto, Arus Lalu Lintas di Empat Simpang Utama Kota Kediri Terpantau Aman dan Lancar
Sulis menjelaskan, bahan baku utama pembuatan gula kelapa berasal dari nira atau air tetesan manggar, yakni bakal buah kelapa. Di desanya, hampir setiap rumah memiliki pohon kelapa sehingga pasokan bahan baku relatif mudah diperoleh.
Dalam sehari, usahanya membutuhkan sedikitnya 200 liter nira. Selain dari sekitar desa, sebagian pasokan juga didatangkan dari Desa Ngoran, Kecamatan Nglegok.
Proses pembuatan gula kelapa dimulai dengan merebus nira selama berjam-jam hingga mengental dan berubah warna menjadi cokelat. Setelah itu, cairan tersebut ditambahkan sedikit gula pasir sebelum dicetak dan dikeringkan.
“Setelah direbus sampai kental, kemudian dicetak di tempat khusus dan dikeringkan. Setelah itu siap dipasarkan,” jelasnya.
Lonjakan pesanan juga berdampak pada penyerapan tenaga kerja. Saat ini Sulis mempekerjakan 13 orang warga sekitar yang membantu proses produksi, mulai dari perebusan, pencetakan hingga pengemasan.
Baca juga : Sapa Pagi Polsek Mojoroto, Arus Lalu Lintas di Empat Simpang Utama Kota Kediri Terpantau Aman dan Lancar
Sementara untuk urusan pemasaran dan administrasi usaha kini telah diserahkan kepada anaknya sebagai bagian dari proses regenerasi usaha keluarga.
“Sekarang pemasaran dipegang anak. Saya hanya mengawasi saja,” katanya.
Pasar gula kelapa produksi Sulis tidak hanya berada di wilayah Jawa Timur. Pelanggannya tersebar di sejumlah kota besar seperti Surabaya, Malang, Jakarta, hingga Tangerang. Bahkan produknya juga telah dikirim hingga Hong Kong.
Harga gula kelapa saat ini dipatok sekitar Rp21.500 per kilogram, dengan harga yang lebih murah untuk pembelian dalam jumlah besar.
Menurut Sulis, saat ini jumlah produsen gula kelapa nira semakin berkurang karena minimnya regenerasi. Banyak generasi muda yang lebih memilih bekerja sebagai karyawan atau merantau ke luar daerah.
Meski demikian, ia berkomitmen untuk terus mempertahankan usaha keluarga tersebut agar tetap berjalan dan bisa diwariskan kepada generasi berikutnya.
“Produksi masih dilakukan di dapur belakang rumah. Kami ingin usaha ini tetap bertahan sebagai usaha keluarga,” pungkasnya.***
Reporter: Aziz Wahyudi
Editor: Hadiyin





