NGANJUK, LINGKARWILIS.COM – Kasus ledakan mercon yang melibatkan sejumlah remaja di Dusun Jabon, Desa Drenges, Kecamatan Kertosono, Kabupaten Nganjuk, terungkap berawal dari pembelian bahan peledak secara daring melalui platform media sosial.
Tiga remaja belasan tahun dilaporkan menjadi korban ledakan saat merakit mercon di sebuah kandang sapi milik warga setempat.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, empat remaja berinisial AB, MA, FF, dan SP berkumpul untuk membuat mercon berukuran besar secara mandiri. Bahan peledak yang digunakan diketahui dibeli secara online melalui TikTok Shop menggunakan akun milik salah satu remaja.
Kasi Humas Polres Nganjuk, Iptu Fajar Kurniadi, menjelaskan bahwa bahan-bahan yang mereka beli terdiri dari KCLO 250 gram, belerang 150 gram, serta aluminium powder atau bubuk mercon sebanyak 500 gram.
Baca juga : Sapa Pagi Polsek Mojoroto, Arus Lalu Lintas di Empat Simpang Utama Kota Kediri Terpantau Aman dan Lancar
Seluruh bahan tersebut sempat disimpan di rumah AB sebelum akhirnya dibawa ke belakang kandang sapi milik Fatoni, ayah dari FF, untuk dirakit.
Selain membeli bahan secara daring, para remaja tersebut juga mengaku mempelajari cara meracik bahan peledak secara otodidak dengan menonton tutorial di platform video YouTube.
“Berdasarkan keterangan yang kami himpun, para remaja ini merakit mercon dengan melihat tutorial di YouTube. Sementara bahan-bahannya mereka mengaku membeli obat mercon melalui akun TikTok Shop milik salah satu rekan mereka,” ujar Fajar, Selasa (10/3/2026).
Ledakan terjadi saat para remaja memasukkan campuran bahan peledak ke dalam selongsong kertas yang telah mereka siapkan sebelumnya. Ketika proses pengisian berlangsung, bagian bawah mercon diketuk menggunakan palu hingga memicu ledakan hebat.
Akibat peristiwa tersebut, AB, MA, dan FF mengalami luka-luka dan langsung dilarikan ke fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan perawatan medis.
Sementara itu, lokasi kejadian di area kandang sapi kini telah dipasang garis polisi oleh petugas Polres Nganjuk guna kepentingan penyelidikan lebih lanjut.***
Reporter : Inna Dewi Fatimah
Editor : Hadiyin





