Jombang, LINGKARWILIS.COM – Puluhan pegiat budaya dan sejarah dari Jombang, Mojokerto, dan Kediri menggelar Jagongan Budaya di Sanggar Wayang Topeng Tri Purwo Budoyo, Desa Jatiduwur, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Jombang, Jumat (1/5/2026) malam. Kegiatan yang berlangsung saat purnama itu diisi dengan doa bersama untuk kebangkitan Nusantara.
Acara tidak sekadar menjadi forum diskusi, tetapi juga sarana refleksi budaya dan spiritual. Sejumlah tokoh turut hadir sebagai narasumber, di antaranya Nasrul Ilah (Cak Nas), Arif Yulianto (Cak Arif), Ari Hakim, Supriyadi, Isma Hakim, RM Kuswartono, serta tokoh spiritual Ki Budi Sejati.

Kegiatan diawali dengan penampilan Tari Klono oleh anak-anak setempat, dilanjutkan tarian sakral Topeng Jatiduwur yang sarat makna historis. Tarian tersebut merepresentasikan refleksi sosok Hayam Wuruk, menghadirkan nuansa magis yang berpadu dengan suasana malam purnama.
Baca juga : APBN Kediri Raya Tumbuh Positif hingga Maret 2026, Sinergi Kemenkeu Dorong Ekonomi Daerah
Dalam sesi diskusi, para pegiat sejarah mengulas kejayaan Nusantara pada masa Kerajaan Majapahit di bawah kepemimpinan Hayam Wuruk bersama Gajah Mada. Selain itu, pembahasan juga menyinggung peran Soekarno dalam membawa Indonesia tampil di panggung dunia dan sejajar dengan negara besar.
Pengelola sanggar, Isma Hakim, menyebut kegiatan ini lahir dari refleksi dan diskusi panjang. Pemilihan malam purnama, menurutnya, memiliki makna simbolis sebagai momentum perenungan terhadap kejayaan masa lalu.
“Pada masa pemerintahan Prabu Hayam Wuruk dan Mahapatih Gajah Mada, Majapahit mencapai masa keemasan,” ujarnya di sela kegiatan.
Ia berharap semangat para tokoh tersebut dapat menjadi inspirasi bagi kebangkitan Indonesia ke depan, menuju kondisi masyarakat yang sejahtera dan harmonis.
“Kebangkitan Nusantara harus dijemput, bukan sekadar ditunggu,” tegasnya.
Baca juga : Dua Mahasiswi di Plandaan Jombang Jadi Korban Penusukan, Pelaku Ditangkap Warga
Hal senada disampaikan pegiat sejarah Ari Hakim yang berharap kegiatan serupa dapat terus digelar di berbagai daerah sebagai upaya merawat ingatan sejarah sekaligus membangun kesadaran kolektif.
“Kami berharap melalui doa bersama ini, kebangkitan Nusantara dapat segera terwujud,” pungkasnya.***
Reporter: Taufiqur Rachman
Editor : Hadiyin





