Ponorogo, LINGKARWILIS.COM — Pamor komoditas kedelai lokal di Kabupaten Ponorogo kian meredup. Tanaman yang dulu menjadi andalan petani itu kini mulai ditinggalkan, seiring peralihan ke komoditas yang dinilai lebih menguntungkan seperti padi dan jagung.
Data Dinas Pertanian Ketahanan Pangan dan Perikanan Ponorogo menunjukkan, luas tanam kedelai yang pada 2017 masih mencapai sekitar 30 ribu hektare, kini menyusut drastis menjadi hanya sekitar 351 hektare. Lahan tersisa itu tersebar di Kecamatan Siman, Mlarak, Jetis, dan Sawoo.

Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura, Tri Budi, mengungkapkan penurunan tersebut dipengaruhi perubahan pola tanam petani, terutama setelah hadirnya Waduk Bendo yang meningkatkan ketersediaan air irigasi.
Baca juga : Job Fair 2026 Kabupaten Kediri, Strategi Nyata Tekan Pengangguran, Pentahelix Jadi Kunci
“Dulu setelah panen padi, lahan biasanya ditanami kedelai karena keterbatasan air. Sekarang petani bisa tanam padi hingga tiga kali setahun atau beralih ke jagung yang lebih menguntungkan,” ujarnya.
Dari sisi produktivitas, kedelai juga kalah bersaing. Dalam satu hektare, hasil panen kedelai rata-rata hanya sekitar 1,4 ton per tahun. Sementara itu, padi dan jagung mampu menghasilkan hingga 7 ton per hektare.
Selain produktivitas, faktor pasar turut menjadi pertimbangan utama. Permintaan jagung yang stabil dengan harga yang relatif menguntungkan membuat petani semakin meninggalkan kedelai.
“Jagung jelas pasarnya dan hasilnya lebih tinggi, sehingga lebih diminati petani,” imbuhnya.
Baca juga : DKPP Kabupaten Kediri Gelar Kontes Ternak 2026, 136 Sapi Bernilai Hingga Rp7 Miliar
Padahal secara teknis, kedelai tergolong tanaman yang efisien, tidak membutuhkan banyak air, dan memiliki masa tanam relatif singkat, sekitar 70 hingga 80 hari. Di Ponorogo, varietas yang umum dibudidayakan antara lain Gepak Ijo dan Gepak Kuning.
Pemerintah sebenarnya telah berupaya mendorong kembali budidaya kedelai melalui berbagai program bantuan. Namun, implementasinya belum optimal karena minimnya minat petani, salah satunya akibat syarat minimal luas lahan kelompok tani.
Sebagai solusi, dinas mendorong pola tanam tumpang sari, terutama di lahan jagung, agar kedelai tetap bisa ditanam tanpa mengganggu komoditas utama.
Di sisi lain, keterbatasan produksi dalam negeri membuat kebutuhan kedelai nasional masih bergantung pada impor. Kondisi ini semakin mempersempit ruang bagi kedelai lokal untuk berkembang.
“Produksi lokal sangat terbatas, sehingga kebutuhan masih dipenuhi dari impor,” pungkasnya.***
Reporter : Sony Prasetyo
Editor : Hadiyin





