BANGKALAN, LINGKARWILIS.COM – Penutupan Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama (NU) 2026 berlangsung meriah di Institut Agama Islam Sayyidina Kholil, Bangkalan, Madura, Selasa (23/6/2026). Ribuan warga Nahdliyin memadati lokasi acara untuk mengikuti rangkaian penutupan forum strategis organisasi Islam terbesar di Indonesia tersebut.
Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, hadir secara langsung dalam acara tersebut. Sejumlah tokoh nasional turut mendampingi, di antaranya Agus Harimurti Yudhoyono, Listyo Sigit Prabowo, Said Aqil Siradj, serta Miftah Maulana Habiburrahman.
Dalam sambutannya, Ketua Umum PBNU, Yahya Cholil Staquf, menyampaikan rasa terima kasih atas kehadiran Presiden Prabowo yang dinilai menambah makna tersendiri dalam penutupan Munas dan Konbes NU 2026.
Baca juga : Dianggarkan Rp400 Juta, Pemkab Kediri Segera Bangun Kembali Puskesmas Tiron
Menurut Gus Yahya, forum tersebut merupakan bagian penting dari tahapan menuju Muktamar ke-35 NU yang dijadwalkan berlangsung pada 1 hingga 5 Agustus 2026 mendatang.
“Kehadiran Presiden menjadi kebahagiaan tersendiri bagi kami setelah seluruh rangkaian Munas dan Konbes dapat diselesaikan dengan baik sebagai bagian dari persiapan menuju Muktamar mendatang,” ujarnya.
Pada kesempatan itu, Gus Yahya menegaskan bahwa Nahdlatul Ulama memiliki komitmen kuat dalam menjaga keutuhan bangsa dan negara. Ia menyebut para ulama, pengurus, dan kader NU yang hadir merupakan bagian dari masyarakat yang memiliki loyalitas terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Menurutnya, hubungan antara NU dan negara telah terjalin kuat sejak awal berdirinya organisasi tersebut. Karena itu, NU akan terus mengambil peran dalam menjaga persatuan, stabilitas, dan kemajuan bangsa.
“Warga NU selalu menempatkan kepentingan bangsa dan negara sebagai bagian dari perjuangan yang harus dijaga bersama,” katanya.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa semangat pengabdian dan pengorbanan untuk kepentingan masyarakat, bangsa, dan negara akan terus menjadi landasan perjuangan warga Nahdliyin di berbagai bidang kehidupan.
Gus Yahya juga mengajak seluruh kader NU untuk tetap optimistis menghadapi berbagai tantangan masa depan dengan berpegang teguh pada nilai-nilai keimanan, pengabdian, dan perjuangan yang telah diwariskan para pendiri organisasi.
Menutup pidatonya, ia mengutip ayat Al-Qur’an “Nasrun minallah wa fathun qarib” yang bermakna pertolongan Allah dan kemenangan yang dekat. Menurutnya, keyakinan terhadap pertolongan Allah menjadi sumber optimisme bagi NU dalam menjalankan pengabdian kepada umat, bangsa, dan negara.
“Selama kita tetap teguh dalam iman dan istiqamah dalam perjuangan, pertolongan Allah akan selalu menyertai,” pungkasnya.***
Editor :Hadiyin





