Jombang, LINGKARWILIS.COM – Kondisi Sungai Sekunder Rejoagung 2 di Dusun Murong Santren, Desa Mayangan, Kecamatan Jogoroto, Kabupaten Jombang, kembali dikeluhkan warga. Saat musim kemarau, minimnya debit air membuat endapan, sampah, dan material buangan di dasar sungai menimbulkan bau menyengat.
Pantauan di lokasi menunjukkan kondisi sungai hampir tidak dialiri air. Dasar sungai terlihat dipenuhi endapan berwarna kecokelatan dan sejumlah sampah. Di beberapa titik juga terdapat saluran pembuangan dari permukiman yang bermuara langsung ke sungai.
Salah satu saluran terlihat mengeluarkan cairan berwarna putih pekat. Warga menduga cairan tersebut berkaitan dengan aktivitas produksi tahu di sekitar kawasan. Namun, sumber dan kandungan cairan itu belum dapat dipastikan karena membutuhkan pemeriksaan serta uji laboratorium oleh instansi berwenang.
Bau tidak sedap menjadi keluhan utama warga. Sejumlah orang yang berada di sekitar sungai terlihat menutup hidung menggunakan tangan, pakaian, hingga masker.
Umar Mahmud, warga Dusun Murong Santren yang telah tinggal di kawasan tersebut sejak 1999, mengatakan persoalan bau dari sungai sudah berlangsung cukup lama. Menurutnya, kondisi semakin terasa ketika debit air sungai menyusut pada musim kemarau.
Baca juga : Bus dan Truk Rombongan Teater Jombang Tersendat di Tol, Ternyata Honda Jazz Pecah Ban
“Kalau kemarau baunya sangat menyengat. Limbah tahu, kotoran hewan, dan sampah bercampur di sungai. Baunya sampai membuat dada terasa sesak dan panas,” ujar Mahmud sambil menutup hidung dengan kaos, Selasa (15/9/2026).
Ia menjelaskan, kondisi sungai berbeda ketika memasuki musim hujan. Debit air yang meningkat membuat material yang berada di sungai lebih mudah terbawa arus. Sebaliknya, saat kemarau, aliran yang dangkal membuat endapan dan material buangan bertahan lebih lama.
“Kalau hujan, airnya penuh sehingga kotoran ikut terbawa. Tapi kalau kemarau seperti sekarang, setiap hari, setiap saat baunya sangat terasa menyengat,” imbuhnya.
Mahmud mengaku persoalan tersebut sudah beberapa kali disampaikan kepada pemerintah. Namun, menurut dia, penanganan yang dilakukan sejauh ini belum memberikan perubahan yang signifikan.
Salah satu solusi yang pernah disampaikan adalah pembangunan instalasi pengolahan air limbah (IPAL). Warga berharap fasilitas tersebut dapat mencegah limbah dibuang langsung ke sungai.
“Dulu katanya akan dibuatkan IPAL, tetapi sampai sekarang belum ada. Harapan kami ada IPAL sehingga limbah tidak langsung masuk sungai dan kondisi sungai bisa kembali bersih,” tuturnya.
Baca juga : HUT Lalu Lintas ke-71 Polres Kediri Digelar Meriah, Ada Baksos untuk Komunitas Ojol
Selain bau sungai, Mahmud juga mengeluhkan kondisi air sumur miliknya. Ia mengatakan air sumur terkadang berwarna putih keruh dan berbau sehingga tidak digunakan untuk kebutuhan minum maupun memasak.
“Air sumur saya sangat bau dan warnanya seperti putih susu pekat. Untuk minum dan memasak, sudah bertahun-tahun saya menggunakan air galon,” jelasnya.
Menurut Mahmud, aroma tidak sedap juga masih tercium ketika air sumur digunakan untuk mencuci pakaian, meski sudah dicuci dan diberi pewangi.
Ia juga mengaku kerap mengalami sesak napas dan masih menjalani pemeriksaan serta mengonsumsi obat. Namun, keluhan kesehatan tersebut belum dapat dipastikan berkaitan langsung dengan kondisi sungai atau kualitas air sumur tanpa pemeriksaan medis dan pengujian lingkungan.
“Saya sendiri sering sesak napas dan sering periksa. Sampai sekarang masih terasa dan saya juga masih sering minum obat,” terangnya.
Mahmud menambahkan, anak-anaknya juga pernah mengalami keluhan seperti mual, sakit perut, dan muntah. Namun, ia menyadari keluhan tersebut belum bisa dipastikan penyebabnya dan diperlukan pemeriksaan medis untuk mengetahui kaitannya.
Menurutnya, persoalan bau juga dirasakan warga di sejumlah wilayah yang dilalui aliran sungai, mulai dari Murong Santren, Ngembeh, sekitar Pondok Darul Ulum hingga Peterongan.
“Yang merasakan dampaknya cukup banyak karena aliran sungai melewati beberapa wilayah. Sampai Peterongan juga ada yang mengeluhkan,” pungkasnya.
Warga berharap pemerintah segera melakukan pemeriksaan terhadap sumber pencemaran sekaligus mengambil langkah penanganan. Mereka juga meminta agar tidak ada pembuangan limbah secara langsung ke badan sungai.
“Jangan hanya dibahas dalam rapat. Kami berharap ada tindakan nyata, termasuk pembangunan IPAL kalau memang diperlukan. Yang penting sungainya bersih dan warga tidak terus terganggu bau seperti ini,” tutup Umar.
Sementara itu, Kepala Dusun Murong Pesantren yang juga Ketua Paguyuban Perajin Tahu, Imam Subeki, mengatakan pihaknya belum dapat memberikan banyak keterangan karena masih menangani kebakaran lahan di wilayahnya.
Namun, ia menyebut telah mengajukan normalisasi sungai kepada Dinas PUPR dan Dinas Lingkungan Hidup (DLH). Pihaknya juga mengaku melakukan koordinasi serta memberikan kontribusi sebagai pengusaha tahu.
“Yang jelas kami sudah mengajukan normalisasi ke PUPR, DLH dan koordinasi serta kontribusi selaku pengusaha tahu,” singkatnya.
Terpisah, Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Jombang M. Amin Kurniawan mengatakan pihaknya telah melakukan pemantauan dan akan menindaklanjuti persoalan tersebut.
“Iya monitor, InsyaAllah segera kita tangani. Kamis kita sudah teragenda rapat koordinasi dengan PU, pemdes dan kecamatan,” paparnya.***
Reporter: Taufiqur Rachman
Editor : Hadiyin






Responses (2)