JOMBANG, LINGKARWILIS.COM – Lonjakan harga tepung tapioka sepanjang 2026 menjadi tantangan berat bagi pelaku usaha kerupuk di Kabupaten Jombang. Kondisi tersebut turut dirasakan Sumarsono (68), perajin kerupuk kelet legendaris asal Kelurahan Kaliwungu, Kecamatan Jombang, yang kini berjuang mempertahankan usaha keluarga yang telah dirintis sejak 1951.
Sebagai generasi kedua penerus usaha orang tuanya, Sumarsono harus memutar otak agar produksi tetap berjalan di tengah kenaikan biaya bahan baku yang semakin membebani.
Ia mengungkapkan, harga tepung tapioka mengalami kenaikan cukup tajam dibandingkan awal tahun 2026. Jika sebelumnya satu kuintal tepung masih bisa diperoleh dengan harga sekitar Rp600 ribu, kini harganya mencapai Rp1,5 juta untuk jenis tapioka spesial.
“Kenaikan harga bahan baku tepung hampir dua kali lipat. Sejak awal tahun 2026, per satu kuintal tepung mulai Rp600 ribuan. Tapi sekarang mencapai Rp1,5 juta untuk tepung tapioka spesial per satu kuintalnya,” ungkap Sumarsono saat ditemui di tempat produksinya di Jalan Gatot Subroto, Kelurahan Kaliwungu, Jombang, Kamis (5/11/2026).
Baca juga : Berawal dari Jasa Selep Tepung, Samsul Arif Kini Sukses Bangun Usaha Grosir Sembako di Jombang
Kenaikan tersebut membuat biaya produksi membengkak dan keuntungan usaha semakin menipis. Padahal, dalam kondisi normal, Sumarsono mampu menghasilkan hampir satu kuintal kerupuk setiap harinya.
Persoalan tidak hanya datang dari mahalnya bahan baku. Permintaan pasar juga mengalami penurunan karena sejumlah warung makan yang menjadi pelanggan tengkulak mulai tutup. Akibatnya, pesanan kerupuk ikut berkurang.
Kondisi tersebut diperparah dengan kenaikan harga komponen produksi lainnya, seperti minyak goreng dan plastik kemasan. Sumarsono menyebut penurunan omzet usahanya bisa mencapai 30 persen.
“Rata-rata omzet per bulan sampai puluhan juta, dan dampaknya sampai merosot karena banyak pelaku usaha banyak yang tutup tidak seperti dulu. Jadi pesanan tengkulak rada sepi,” terangnya.
Di tengah berbagai tekanan ekonomi, Sumarsono tetap berusaha menjaga keberadaan kerupuk kelet yang menjadi salah satu kuliner khas Jombang.
Baca juga : Puting Beliung Terjang Kepung Kediri, 20 Rumah Warga Mengalami Kerusakan
Produk warisan keluarganya tersebut memiliki karakter rasa yang khas, yakni gurih dengan dominasi rasa asin serta tekstur legit dan sedikit lengket di lidah.
Keunikan lainnya terletak pada proses pembuatannya yang masih mempertahankan metode tradisional. Sejak pertama kali dirintis pada 1951, teknik produksi kerupuk kelet tersebut tidak banyak mengalami perubahan.
Proses pembuatan diawali dengan mengolah dan mengaduk tepung hingga menjadi adonan. Selanjutnya, adonan dibentuk menyerupai gulungan mi sebelum diproses ke tahap pencetakan.
Para pekerja perempuan kemudian menggunakan alat khusus untuk mencetak adonan menjadi bentuk bulat berukuran kecil. Hasil cetakan ditata di atas tampah, kemudian dikukus hingga matang.
Setelah proses pengukusan selesai, kerupuk dijemur di bawah sinar matahari sampai benar-benar kering. Pada hari berikutnya, kerupuk mentah tersebut digoreng menggunakan tungku berbahan bakar kayu sebelum dikemas dalam plastik untuk dipasarkan.
Strategi Bertahan di Tengah Kenaikan Biaya Produksi
Meski kenaikan harga tepung tapioka memberikan tekanan besar, Sumarsono belum menyerah untuk melanjutkan usaha peninggalan keluarganya.
Ia memilih melakukan sejumlah penyesuaian agar kegiatan produksi tetap berlangsung. Salah satunya dengan memperkecil ukuran cetakan kerupuk dan menyesuaikan harga jual kepada konsumen.
Langkah tersebut dinilai sebagai cara untuk menjaga keberlangsungan usaha di tengah kenaikan harga bahan baku yang disebutnya mencapai sekitar 167 persen berdasarkan perbandingan harga sebelumnya.
Menurut Sumarsono, kondisi serupa juga dialami sejumlah produsen kerupuk lainnya. Para perajin terpaksa mengambil langkah penyesuaian agar tidak terus terbebani lonjakan biaya produksi.
“Dampak kenaikan ini ke usaha krupuk bikin pusing. Pokoknya alhamdulillah bisa diputar, dengan mensiasati bahan cetakan dikecilkan dan harga dinaikkan. Rata-rata pabrik semua seperti itu menyiasatinya,” pungkasnya.
Bagi Sumarsono, mempertahankan kerupuk kelet bukan sekadar menjalankan aktivitas perdagangan, melainkan juga menjaga warisan kuliner keluarga yang telah bertahan lebih dari tujuh dekade.
Namun, tekanan kenaikan bahan baku dan melemahnya permintaan pasar menjadi tantangan yang tidak ringan bagi keberlangsungan UMKM tradisional. Dukungan terhadap pelaku usaha kecil dinilai penting agar produk kuliner warisan daerah seperti kerupuk kelet tetap dapat bertahan dan dikenal oleh generasi berikutnya.***
Reporter: Taufiqur Rachman
Editor : Hadiyin





