LINGKARWILIS.COM – Media sosial X sedang dihebohkan dengan fenomena aplikasi World App yang bisa memberikan uang hanya dengan scan retina untuk setiap orangnya.
Hebohnya fenomena ini bermula ketika banyak orang Bekasi dan Depok ramai antri di depan kantor World App hanya untuk mendapatkan uang usai melakukan scan retina melalui aplikasi tersebut.
Diketahui mereka yang berhasil melakukan scan retina akan diberikan uang dengan nominal yang berbeda yaitu dari Rp 200 ribu hingga Rp 800 ribu.
Melansir akun @AKU_dgn3putra di X terdapat menfess membagikan padatnya suasana kantor World App yang terletak di sekitar Stasiun Bekasi Timur, tepatnya di Jalan Juanda, teras kantor terlihat dipenuhi dengan motor dan orang yang mengantri.
Ketika aplikasi ini mulai viral menjadi perbincangan, kantor World App langsung dibekukan sementara oleh Komdigi (Kementerian Komunikasi dan Digital)
Lirik dan Makna Lagu Stecu Stecu yang Viral di TikTok, Berhasil Raih Jutaan Penonton!
Lalu apa sih World App yang beberapa hari sempat menghebohkan rakyat Bekasi dan Depok?
World App adalah aplikasi dompet digital yang dikembangkan oleh perusahaan bernama Tools for Humanity, yang bertujuan untuk menciptakan identitas digital global berbasis teknologi blockchain.
Sebelumnya, World App sudah menjadi dompet kripto terbesar ketiga di dunia, dengan lebih dari 150 juta transaksi dan volume transaksi mencapai $1,5 miliar.
Aplikasi ini memungkinkan pengguna untuk membuat World ID, sebuah identitas digital yang diverifikasi dengan cara melakukan pemindaian retina mata menggunakan perangkat bernama Orb.
Setelah proses verifikasi melalui pemindaian retina, pengguna akan mendapatkan token kripto Worldcoin ($WLD) yang bisa disimpan dalam aplikasi tersebut dan kemudian bisa ditukar dengan mata uang kripto lain atau diuangkan melalui bursa kripto.
Apa Itu Red Note dan Benarkah Akan Jadi Aplikasi Pengganti TikTok di Amerika?
Apa Saja Bahaya Dibaliknya?
Beberapa kekhawatiran yang muncul terkait penggunaan World App dan pemindaian retina sebagai bagian dari proses verifikasi identitas antara lain.
1. Privasi Data Biometrik: Pemindaian retina adalah proses yang sangat sensitif karena melibatkan data biometrik pengguna. Kekhawatiran utama adalah bagaimana data biometrik seperti iris mata disimpan, digunakan dan dilindungi.
Jika data ini jatuh ke tangan yang salah atau disalahgunakan, dapat menimbulkan risiko keamanan yang serius.
2. Keamanan Data: Meskipun World App mengklaim menggunakan teknologi blockchain yang aman, masih ada potensi risiko terhadap kebocoran data pribadi dan biometrik, terutama jika platform tidak cukup transparan dalam hal bagaimana data pengguna dikelola atau jika terjadi pelanggaran keamanan.
3. Penyalahgunaan Teknologi: Penggunaan pemindaian retina untuk verifikasi identitas berpotensi disalahgunakan.
Misalnya, jika data biometrik digunakan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab untuk tujuan yang tidak sah atau jika ada potensi pemalsuan identitas melalui teknologi canggih.
4. Kekhawatiran Regulasi: Beberapa negara dan lembaga pemerintahan khawatir mengenai kurangnya regulasi dalam pengumpulan dan penggunaan data biometrik.
Misalnya, di Indonesia, aplikasi World App dihentikan sementara oleh pemerintah karena ketidaksesuaian operasionalnya dengan peraturan yang ada.
5. Penyalahgunaan untuk Tujuan Komersial: Ada ketakutan bahwa informasi biometrik yang dikumpulkan dapat digunakan untuk tujuan komersial tanpa persetujuan eksplisit dari pengguna.
Misalnya, data ini bisa diperdagangkan atau digunakan untuk keperluan yang melampaui identifikasi pribadi.
Secara umum, meskipun teknologi ini menawarkan kemudahan dan potensi yang besar dalam identifikasi digital, risiko-risiko yang berkaitan dengan privasi, keamanan, dan penggunaan data pribadi tetap menjadi perhatian utama yang perlu ditangani dengan hati-hati.
Editor: Shadinta Aulia Sanjaya
