Kediri, LINGKARWILIS.COM – Unit Pemadam Kebakaran (Damkar) Kota Kediri melaksanakan simulasi evakuasi korban kebakaran di gedung Bank Jatim lantai 4 yang berada di kawasan Ruko Jalan Diponegoro, Senin (22/12). Kegiatan simulasi ini dilakukan sebagai bagian dari upaya peningkatan kesiapsiagaan menghadapi potensi kebakaran sejak dini.
Dalam simulasi tersebut, sejumlah personel Damkar diterjunkan untuk mempraktikkan penanganan kebakaran, pengamanan area, serta proses penyelamatan korban yang berada di lantai atas bangunan.
Kepala UPT Damkar Kota Kediri, Dhany Adi Projo, menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan melatih respons cepat petugas sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap bahaya kebakaran.
“Melalui simulasi ini, kami berharap masyarakat semakin peduli dan waspada terhadap potensi kebakaran di lingkungan sekitar,” ujarnya.
Baca juga : Persik Kediri Matangkan Persiapan Jelang Menjamu Persis Solo
Dhany juga mengingatkan pentingnya mengenali tanda-tanda awal kebakaran, seperti munculnya bau asap atau bau hangus di lokasi yang tidak wajar, agar tindakan pencegahan bisa segera dilakukan.
Selain itu, ia menekankan bahwa setiap gedung, khususnya fasilitas pelayanan publik, wajib dilengkapi sistem proteksi kebakaran yang memadai, seperti APAR, alarm kebakaran, sistem sprinkler, serta petunjuk jalur evakuasi yang jelas.
Sementara itu, perwakilan Bagian Umum Bank Jatim, Hikma Anindya Putri, menyampaikan bahwa simulasi tersebut memberikan pemahaman penting bagi seluruh karyawan, tidak hanya petugas keamanan.
“Dengan adanya simulasi ini, kami jadi mengetahui prosedur yang harus dilakukan saat kebakaran terjadi, mulai dari evakuasi melalui jalur yang telah ditentukan hingga penanganan korban yang tidak mampu menyelamatkan diri,” jelasnya.
Baca juga : Polisi Perketat Pengamanan di Sejumlah Destinasi Wisata Kediri
Ia menambahkan, langkah utama dalam kondisi darurat adalah segera menghubungi petugas Damkar, melakukan evakuasi, serta melakukan upaya awal untuk mencegah api semakin meluas.
Dalam kegiatan tersebut, peserta juga dibekali pengetahuan mengenai teknik pemadaman kebakaran, baik secara tradisional maupun menggunakan peralatan modern. Metode sederhana seperti memanfaatkan kain tebal atau handuk basah juga diperkenalkan untuk menghambat suplai oksigen ke sumber api.
“Pada dasarnya, kebakaran terjadi karena adanya panas, bahan bakar, dan oksigen. Jika salah satu unsur tersebut dapat dikendalikan, maka api bisa dipadamkan,” terangnya.
Hikma berharap edukasi kebencanaan semacam ini dapat diperluas ke berbagai lapisan masyarakat, termasuk di lingkungan permukiman dan pedesaan. Menurutnya, risiko kebakaran rumah tangga cukup tinggi dan sering kali diperparah oleh kepanikan.
“Jika masyarakat memahami cara penanganannya, maka dampak dan kerugian akibat kebakaran dapat ditekan, serta keselamatan jiwa bisa lebih terjamin,” pungkasnya.***
Reporter : Ely Burhan
Editor : Hadiyin





