Nganjuk, LINGKARWILIS.COM – Apa yang awalnya hanya sekadar iseng, kini justru menjadi ladang rezeki bagi Aris (46), ibu rumah tangga asal Desa Drenges, Kecamatan Kertosono, Kabupaten Nganjuk. Berawal dari membawa jajanan saat menjemput anak di taman kanak-kanak pada 2013, kini usahanya berkembang pesat dengan omzet mencapai belasan juta rupiah setiap bulan.
Kisah sukses itu bermula dari kebiasaan sederhana. Aris sering berbagi camilan buatannya kepada para ibu yang juga menunggu anak di sekolah. Tak disangka, banyak yang menyukai rasa kue buatannya dan mulai memesan.
“Waktu itu cuma bawa cemilan ke sekolah. Ibu-ibu yang lain coba dan ternyata suka, lalu minta dibuatin lagi. Dari situ mulai banyak yang pesan,” kenang Aris.
Promosi dari mulut ke mulut pun membuat namanya dikenal. Ia mulai menitipkan kue basah kepada pedagang sayur keliling dan menerima pesanan untuk berbagai acara. Meski awalnya belum banyak yang laku, Aris tidak menyerah dan terus mengasah kemampuannya.
Baca juga : Jenazah Santri Korban Ambruknya Musala Al-Khoziny Asal Nganjuk Dimakamkan di Wilangan
Awalnya, Aris hanya bisa membuat pastel, namun pesanan yang beragam mendorongnya belajar membuat jenis kue lain secara otodidak lewat Google dan YouTube.
“Pertama bisa pastel saja. Lalu ada yang pesan bolu ayu, padahal belum bisa. Jadi belajar lewat internet, sering gagal juga, tapi akhirnya bisa,” tuturnya.
Kini, Aris mampu memproduksi berbagai jenis kue basah, nasi kotak, hingga tumpeng pesanan acara. Bahkan, sebelum menerima pesanan baru, ia selalu mencoba resep terlebih dahulu agar hasilnya memuaskan.
“Dulu pertama kali dapat pesanan bikang 100 biji, padahal belum pernah bikin. Akhirnya coba dulu, dan alhamdulillah berhasil,” ujarnya sambil tersenyum.
Produksi hariannya kini jauh lebih efisien. Jika dulu membuat 100 kue butuh waktu setengah hari, kini cukup 2 hingga 2,5 jam. Dalam sehari, ia bisa membuat 100 hingga lebih dari 1.000 potong kue, tergantung pesanan.
Baca juga : Rehab Kantor Kelurahan Pakelan, Pemkot Kediri Pastikan Keaslian Cagar Budaya Tetap Terjaga
“Kalau ramai bisa sampai seribu lebih. Kadang 800, 700, atau kalau sepi ya 100-an saja,” tambahnya.
Pesanan paling banyak datang dari acara lamaran, hajatan, pengajian, tahlilan, hingga ulang tahun, dengan harga kue berkisar antara Rp1.500 hingga Rp3.000 per potong. Kini, Aris tak lagi bekerja sendiri. Ia dibantu beberapa tetangga, terutama saat pesanan membludak.
“Biasanya ada satu orang bantu tetap. Kalau pas ramai, bisa dua orang, apalagi kalau dapat pesanan nasi kotak juga,” terangnya.
Kerja kerasnya kini membuahkan hasil manis. Dalam sebulan, omzet Aris berkisar antara Rp12 juta hingga Rp17 juta, tergantung banyaknya pesanan.
“Kalau sepi paling sekitar dua belas juta, tapi kalau ramai bisa sampai tujuh belas juta,” ungkapnya bangga.
Kisah Aris menjadi bukti bahwa ketekunan dan kemauan belajar bisa mengubah hobi sederhana menjadi bisnis yang menguntungkan. Tak hanya menopang ekonomi keluarga, usahanya juga memberi manfaat bagi tetangga sekitar yang turut membantunya.***
Reporter: Inna Dewi Fatimah
Editor : Hadiyin






