LINGKARWILIS.COM – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan imbauan kepada masyarakat Malang Raya agar mewaspadai cuaca dingin ekstrem atau yang dikenal dengan istilah *bediding*.
Fenomena bediding diprediksi akan mendominasi wilayah dataran tinggi selama puncak musim kemarau pada Juli hingga Agustus 2025.
Fenomena bediding ditandai dengan turunnya suhu udara secara drastis pada malam hingga pagi hari dalam kondisi cuaca cerah dan kering.
Minimnya tutupan awan pada malam hari membuat radiasi panas bumi langsung terlepas ke atmosfer, sehingga udara menjadi lebih dingin.
Tragis! Bocah 6 Tahun Asal Malang Tewas Tenggelam di Sungai Dekat Rumahnya
Menurut Prakirawan BMKG Stasiun Klimatologi Malang di Karangploso, Pety Yuliana Sari, fenomena ini memang lazim terjadi saat kemarau, namun tetap perlu diwaspadai karena berisiko terhadap kesehatan.
“Fenomena bediding diperkirakan akan berlangsung hingga Agustus, terutama pada malam dan dini hari. Di beberapa wilayah dataran tinggi seperti Karangploso dan Batu, suhu bisa turun hingga 13 sampai 16 derajat Celsius,” ujar Pety saat ditemui, Rabu (9/7).
Ia mengingatkan masyarakat untuk menyesuaikan rutinitas harian, terutama pada malam dan pagi hari, guna mencegah gangguan kesehatan seperti flu, batuk hingga gejala hipotermia ringan. Anak-anak dan lansia disebut sebagai kelompok yang paling rentan terhadap perubahan suhu ini.
“Kami mengimbau masyarakat untuk mengenakan pakaian hangat, memperbanyak konsumsi makanan bergizi, dan menjaga kelembaban tubuh, karena udara juga cenderung kering,” tambahnya.
Viral di Medsos! Pelaku Pencurian di Sekarpuro Ditangkap Polisi Saat Bersembunyi di Kota Malang
BMKG mencatat wilayah yang berpotensi mengalami penurunan suhu signifikan di antaranya Karangploso, Batu (kecamatan Bumiaji dan Junrejo), Dau, Pujon, hingga Tumpang dan Jabung. Di Kota Malang sendiri, suhu dini hari diperkirakan berada di kisaran 17–20 derajat Celsius.
Meskipun bediding termasuk fenomena musiman yang rutin terjadi tiap tahun, BMKG tetap mengimbau masyarakat agar tidak mengabaikan dampaknya.
“Cuaca bediding bukan fenomena ekstrem, tapi bisa berdampak pada aktivitas masyarakat jika tidak diantisipasi. Selain itu, udara yang kering juga meningkatkan risiko kebakaran lahan dan hutan, jadi kewaspadaan tetap diperlukan,” pungkas Pety.
BMKG Stasiun Klimatologi Malang menyatakan akan terus melakukan pemantauan serta menyampaikan peringatan dini jika terdapat perubahan cuaca signifikan.
Masyarakat disarankan mengakses informasi resmi melalui laman BMKG, aplikasi InfoBMKG, atau media sosial BMKG Malang.
Editor: Shadinta Aulia Sanjaya





