Blitar, LINGKARWILIS.COM – Sejumlah perajin tahu di Kota Blitar mengeluhkan kenaikan harga kedelai yang terjadi dalam beberapa hari terakhir. Kenaikan harga bahan baku utama ini berdampak pada penurunan volume produksi.
Delon Saputra, seorang produsen tahu asal Kelurahan Pakunden, Kecamatan Sukorejo, mengungkapkan bahwa harga kedelai saat ini telah mencapai Rp 10.200 per kilogram. Padahal, sepekan sebelumnya harga masih berada di kisaran Rp 9.700 per kilogram.
“Memang naik, dan ini terjadi dalam kurun waktu seminggu terakhir,” ujarnya saat ditemui di tempat produksinya, Kamis (17/4/2025).
Baca juga : Dorong Poskestren Lebih Mandiri, Kadinkes Jatim Kunjungi Ponpes Wali Barokah Kediri
Delon menyebut belum mengetahui secara pasti faktor pemicu kenaikan harga tersebut. Namun, ia menduga hal itu mungkin dipengaruhi oleh fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar, mengingat sebagian besar kedelai yang digunakan di Indonesia masih berasal dari impor.
Imbas dari lonjakan harga ini, kapasitas produksi tahu yang biasanya mencapai 80 hingga 90 kali proses masak per hari, kini hanya mampu dilakukan sebanyak 60 kali. Dalam satu kali proses, sedikitnya dibutuhkan 17 kilogram kedelai untuk menghasilkan tahu siap jual.
“Produksi otomatis kami kurangi karena bahan bakunya mahal,” katanya.
Baca juga : Kasus Kekerasan Perempuan dan Anak di Kabupaten Kediri Didominasi Faktor Ekonomi dan Akses Pornografi
Meski begitu, Delon menegaskan bahwa ia belum menaikkan harga jual tahu ke konsumen. Sebagai solusi, ia mengurangi ukuran tahu yang diproduksi agar tetap memperoleh keuntungan. Harga tahu saat ini masih berkisar antara Rp 1.000 hingga Rp 2.500 per potong, tergantung ukuran.
“Kami jaga harga tetap stabil karena kalau dinaikkan, konsumen bisa beralih,” pungkasnya.***
Reporter : Aziz Wahyudi
Editor : Hadiyin





