PONOROGO, LINGKARWILIS.COM – Suasana penuh haru menyelimuti hari pertama masuk asrama bagi siswa Sekolah Rakyat (SR) Ponorogo, Jumat (1/8/2025). Tangis pecah saat 119 siswa dari jenjang SD hingga SMA harus berpisah dari orang tua atau wali mereka untuk mulai menjalani kehidupan berasrama.
Sejak pagi, para siswa berdatangan ke gedung asrama SR diantar keluarga. Tangisan dan pelukan perpisahan tak terhindarkan, terutama dari siswa-siswi yang masih kecil dan belum terbiasa jauh dari orang tua.
“Adik saya belum terbiasa hidup mandiri. Ini pertama kalinya harus jauh dari keluarga,” ujar Elis Setiawati, salah satu wali murid, sambil menyeka air mata.
Elis mengungkapkan rasa syukur karena adiknya yang sempat putus sekolah kini dapat kembali belajar di Sekolah Rakyat. Ia berharap adiknya bisa tumbuh menjadi pribadi yang lebih mandiri dan bertanggung jawab.
Baca juga : UNP Kediri Terus Tumbuh: Berprestasi, Go Internasional, dan Cetak Ribuan Tokoh Negeri
Sementara itu, Kepala Sekolah Rakyat Ponorogo, Devit Tri Candrawati, mengakui bahwa adaptasi awal menjadi tantangan tersendiri, khususnya bagi siswa kelas 1 SD. Ia menyebut pembiasaan mandiri akan dilakukan secara bertahap dengan pendekatan emosional kepada anak-anak.
“Jenjang usia dini membutuhkan perhatian ekstra. Kami akan mencoba memahami dan memenuhi kebutuhan emosional anak-anak agar mereka merasa nyaman di lingkungan asrama,” jelas Devit.
Sebagai bentuk transisi, pihak sekolah memberikan kesempatan bagi siswa SD untuk dijenguk orang tua setiap hari pada pukul 13.30–16.00 WIB. Sementara untuk siswa SMP dan SMA, waktu kunjungan dibatasi satu kali dalam seminggu.
Saat ini, Sekolah Rakyat 5 Ponorogo menampung total 119 siswa, terdiri dari 21 siswa SD, 48 siswa SMP, dan 50 siswa SMA. Mereka akan menjalani Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) selama dua minggu sebagai bagian dari penyesuaian dengan kehidupan berasrama.***
Reporter : Sony Dwi Prastyo
Editor : Hadiyin





