Jombang, LINGKARWILIS.COM – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) RI bersama PT Perusahaan Gas Negara (PGN) menggulirkan program pembangunan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) komunal di sentra industri tahu, Desa Mayangan, Kecamatan Jogoroto, Kabupaten Jombang. Groundbreaking proyek ini dilakukan pada Selasa (16/9/2025), ditandai dengan penanaman pohon dan peletakan batu pertama.
Acara dimulai sekitar pukul 09.35 WIB, dihadiri Direktur Perlindungan dan Pengelolaan Mutu Air KLHK RI, Tulus Laksono, Direktur SDM dan Penunjang Bisnis PGN, Rahmat Hutama, serta jajaran Forkopimda Jombang.
Dalam kesempatan itu, Rahmat Hutama menegaskan komitmen PGN sebagai bagian dari Pertamina untuk menghadirkan energi ramah lingkungan melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR).
Baca juga : Sat Binmas Polres Kediri Kota Ajak Masyarakat Bijak Bermedsos dan Aktifkan Pam Swakarsa
“Kami tidak hanya membangun IPAL, tapi juga mendorong pemanfaatan eceng gondok dan minyak jelantah sebagai biofuel serta pengembangan energi terbarukan. Program berjalan bertahap hingga 2026,” ujarnya.
Tulus Laksono menambahkan, limbah tahu sudah lama menjadi persoalan serius karena mencemari Sungai Brantas yang menjadi sumber air utama masyarakat Jawa Timur.
“Produksi tahu di Desa Mayangan menghasilkan sekitar 1,2 juta liter limbah cair setiap hari. Jika tidak ditangani, hal ini bisa menimbulkan kerusakan lingkungan dan konflik sosial,” jelasnya.
Pembangunan IPAL senilai Rp7,7 miliar dari dana CSR PGN ditargetkan mampu menekan volume limbah dari 1,26 juta liter per hari menjadi 995 ribu liter, serta menurunkan beban pencemar dari 1.533 ton BOD per tahun menjadi 969 ton. KLHK juga mendorong pengrajin tahu untuk lebih efisien menggunakan air, memanfaatkan limbah menjadi biogas, dan memperkuat paguyuban agar pengelolaan limbah berjalan berkelanjutan.
Bupati Jombang, Warsubi, dalam sambutannya menekankan bahwa tahu merupakan ikon ekonomi lokal sejak 1970-an. Saat ini, ada 88 unit usaha tahu di Desa Mayangan, Sumbermulyo, dan Ngumpul dengan produksi limbah mencapai 1,76 juta liter per hari.
“Pemkab berupaya maksimal mengatasi pencemaran melalui pembangunan IPAL, pemanfaatan biogas, serta langkah darurat pengendalian limbah, meski masih terbatas dari sisi anggaran dan SDM. Karena itu, penguatan koperasi pengrajin tahu sangat penting,” pungkasnya.***
Reporter : Agung Pamungkas
Editor :Hadiyin





