Lamongan, LINGKARWILIS.COM – Pemasangan kain bergambar menyerupai bendera Israel di sebuah rumah di Desa Made, Kecamatan Lamongan, Kabupaten Lamongan, menjadi perbincangan setelah foto dan informasinya menyebar di media sosial. Pemilik rumah yang dikenal warga dengan sebutan Gus Basid pun mulai menjadi perhatian masyarakat.
Menurut keterangan warga, Gus Basid disebut memiliki garis keturunan kiai dari pihak ayahnya yang berasal dari Krian, Kabupaten Sidoarjo. Dalam kesehariannya, ia dikenal gemar melukis dan membuat berbagai coretan di sekitar rumahnya.
Dinding teras rumah tersebut dipenuhi gambar dan simbol. Sejumlah warga menilai beberapa gambar itu menyerupai simbol iluminati dan paham transnasional. Meski demikian, warga setempat menyebut Gus Basid masih bisa diajak berkomunikasi seperti masyarakat pada umumnya.
Baca juga : Teror Ular Piton Pemangsa Ayam di Kediri, Damkar Evakuasi Reptil Sepanjang 3 Meter
Salah seorang warga, Yeny, mengatakan bahwa pria tersebut memang dikenal suka melukis dan mencoret-coret. Namun, berdasarkan pengamatannya, perilaku itu tidak membuatnya kesulitan berkomunikasi dengan warga sekitar.
“Ya begitu kesehariannya suka melukis, mencoret-coret, tapi ya kayak orang biasa. Tidak meresahkan, diajak ngomong ya nyambung,” kata Yeny saat ditemui awak media, Kamis (22/10/2026).
Ramainya pemberitaan mengenai kain yang menyerupai bendera Israel tersebut mendorong pemerintah desa bersama aparat setempat mengambil langkah untuk mencegah keresahan masyarakat.
Kain itu diturunkan pada Selasa (20/10/2026) oleh Sekretaris Desa Made, Khabbib Yaumiddin, bersama Penjabat (Pj) Kepala Desa Made, Suryo, dan Babinsa Desa Made, Nurhadi.
Khabbib menjelaskan, kain yang dipasang di rumah tersebut bukan bendera resmi, melainkan kain yang digambar sendiri oleh pemiliknya menggunakan cat. Bentuk dan warnanya dinilai menyerupai bendera Israel sehingga menarik perhatian warga.
Baca juga : Teror Ular Piton Pemangsa Ayam di Kediri, Damkar Evakuasi Reptil Sepanjang 3 Meter
“Kain yang menyerupai bendera tersebut sudah kita turunkan kemarin setelah ramai dan mungkin sudah viral di media sosial. Jadi, kita bersama Pak Pj Kades Made dan Babinsa Desa Made langsung menurunkan kain tersebut agar tidak meresahkan lagi,” ujar Khabbib, Kamis (22/10/2026).
Ia mengungkapkan, persoalan serupa pernah terjadi sebelumnya. Saat warga menggelar kerja bakti dan membersihkan halaman rumah tersebut, kain itu juga sempat diturunkan. Namun, setelah itu, kain serupa kembali dipasang.
Berdasarkan keterangan pemerintah desa, Gus Basid kini tinggal seorang diri setelah kedua orang tuanya meninggal dunia. Ia disebut lebih sering mengekspresikan diri melalui tulisan, gambar, dan coretan di sekitar rumah.
Khabbib menambahkan, pihak desa tidak mengetahui adanya kejadian Gus Basid mengamuk atau menyerang warga. Oleh karena itu, pemerintah desa memilih pendekatan persuasif dalam menyikapi persoalan tersebut.
“Kalau mengamuk tidak pernah. Orangnya lebih cenderung diam dan menyampaikan lewat tulisan-tulisan,” katanya.
Sementara itu, Pj Kepala Desa Made, Suryo, menyampaikan bahwa penurunan kain dilakukan setelah pemasangannya ramai diperbincangkan di media sosial.
Pemerintah desa bersama Babinsa, sekretaris desa, dan warga setempat kemudian menurunkan kain tersebut sebagai langkah menjaga ketertiban lingkungan.
“Sesuai dengan yang viral di media sosial, pemasangan bendera negara tertentu hari ini kita lepas bersama Pak Babinsa, Pak Sekdes, dan disaksikan warga setempat,” ujar Suryo.
Menurutnya, langkah tersebut diambil untuk mengantisipasi keresahan masyarakat sekaligus menjaga situasi keamanan dan ketertiban di Desa Made tetap kondusif.
Suryo berharap kain serupa tidak kembali dipasang agar persoalan tersebut tidak menimbulkan polemik berkepanjangan di tengah masyarakat.
“Harapan kami ke depan tidak terpasang lagi, agar suasana atau situasi menjadi kondusif. Saya kira itu,” pungkasnya.***
Reporter: Suprapto
Editor : Hadiyin





