Nganjuk, LINGKARWILIS.COM – Karnaval sound horeg di Dusun Ganggang Malang, Desa Sumengko, Kecamatan Sukomoro, Kabupaten Nganjuk, Minggu (20/9/2026) malam, berlangsung meriah.
Dentuman bass dari delapan unit sound horeg menjadi daya tarik utama. Namun, perhatian penonton juga tertuju pada aksi para dancer yang tampil di sela parade, termasuk seorang emak-emak bernama Ana Kartika Sari, 38, warga RT 04 RW 08 Dusun Ganggang Malang.
Ana yang ikut berjoget di belakang deretan sound system berukuran besar itu sontak mendapat respons dari penonton. Sejumlah warga kemudian memberikan saweran berupa uang tunai hingga buket uang.
Aksi tersebut bahkan terekam dalam video dan beredar di media sosial. Dalam rekaman itu, terlihat penonton dari berbagai kalangan mendekati barisan sound system untuk memberikan uang kepada Ana.
Baca juga : Satresnarkoba Polres Nganjuk Amankan Enam Terduga Pengedar Okerbaya dan Sabu
Salah seorang penonton, Arif, warga Desa Kampung Baru, Kecamatan Tanjunganom, mengaku ikut memberikan saweran. Pria yang akrab disapa Mbah Arif tersebut bahkan mengeluarkan uang pecahan Rp100 ribuan.
“Awalnya cuma meramaikan suasana pas check sound, tapi penonton malah makin ramai dan mulai nyawer. Suasananya seru dan kompak,” ujar Arif.
Ia mengaku menghabiskan sekitar Rp1 juta untuk saweran kepada Ana. Menurutnya, sejumlah penonton lain juga memberikan saweran dalam bentuk buket bunga maupun buket uang.
“Total Rp1 juta uang yang saya keluarkan untuk saweran Ana. Saya lihat banyak penonton yang nyawer. Ada yang memberi buket bunga dan buket uang,” kata Arif.
Hal serupa dilakukan Sri Mulyani, 45, warga Desa Malangsari, Kecamatan Tanjunganom. Pemilik Serenade Hall Baduk Karaoke itu mengaku ikut memberikan saweran karena mengenal Ana sebagai salah satu pelanggannya.
“Mbak Ana ini pelanggan warung saya di Taman Wisata Baduk. Begitu Mbak Ana joget, langsung saya sawer. Habis Rp500 ribu,” ujar perempuan yang akrab disapa Jeng Sri tersebut.
Baca juga : Tangis Haru Rohmiati, Dandim Kediri Wujudkan Rumah Layak Huni di HUT ke-81 TNI
Ana sendiri mengaku tidak menyangka aksinya mendapat respons sebesar itu. Perempuan yang memiliki tiga anak tersebut mengatakan dirinya baru pertama kali ikut memeriahkan parade sound horeg.
“Alhamdulillah, saya dapat tiga buket, salah satunya buket uang. Untuk sawerannya terkumpul Rp25 juta. Gak nyangka, baru pertama ikut langsung banjir saweran,” aku Ana.
Menurut Ana, dirinya ikut meramaikan parade sound horeg yang digelar panitia PHBN Dusun Ganggang Malang. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI.
Pelaksanaan kegiatan yang berlangsung pada September, menurut Ana, merupakan kebiasaan warga setempat agar agenda perayaan tidak bersamaan dengan kegiatan serupa di daerah lain.
“Untuk Dusun Ganggang Malang kegiatan Agustusan dari dulu ditaruh di bulan September. Biar gak ada barengannya,” imbuh istri Heri Susanto tersebut.
Sebelum karnaval digelar, panitia juga mengadakan check sound pada Sabtu (19/9/2026) malam. Puncak kegiatan kemudian dilanjutkan dengan parade pada Minggu malam yang menghadirkan delapan unit sound horeg.
Untuk RT 04 RW 08 Dusun Ganggang Malang, rombongan sound horeg berada di urutan keempat.
Kehadiran para dancer dan interaksi dengan penonton membuat parade tidak hanya mengandalkan kekuatan suara. Aksi panggung dan saweran turut menjadi bagian dari kemeriahan acara yang menyedot perhatian masyarakat tersebut.
Meski pertunjukan sound horeg selama ini masih menimbulkan pro dan kontra, khususnya terkait tingkat kebisingan, kegiatan semacam ini tetap menjadi salah satu hiburan yang menarik perhatian masyarakat dan mendatangkan penonton dari berbagai daerah.***
Editor: Muji Hartono





