KEDIRI, LINGKARWILIS.COM β Penyaluran kredit program di wilayah kerja Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) Kediri menunjukkan tren positif hingga Juli 2026. Total pembiayaan yang telah disalurkan mencapai Rp3,58 triliun kepada 75.911 debitur atau tumbuh 21,82 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pertumbuhan kredit program tersebut menjadi salah satu indikator positif bagi perekonomian Kediri Raya, di tengah sejumlah indikator kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) regional yang masih mengalami tekanan.
Berdasarkan data ALCO Regional Kinerja APBN Wilayah Kediri Raya, pendapatan APBN hingga Juli 2026 tercatat sebesar Rp11,82 triliun atau mengalami penurunan 12,17 persen secara tahunan. Sementara realisasi belanja APBN mencapai Rp4,64 triliun dan terkontraksi sebesar 11,85 persen.
Kepala KPPN Kediri Moch. Izma Nur Choironi mengatakan, di tengah kondisi tersebut terdapat pertumbuhan yang cukup signifikan pada sektor kredit program.
“Ada pertumbuhan di sektor Kredit Program,” ujar Izma, Senin (31/8).
Baca juga :Β UMKM Milenial Fest 2026 Jadi Ajang Promosi Produk Lokal Kabupaten Kediri
Kredit program yang disalurkan meliputi Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan pembiayaan Ultra Mikro (UMi). Dari dua skema tersebut, KUR menjadi penyumbang terbesar terhadap total pembiayaan.
Hingga Juli 2026, penyaluran KUR mencapai Rp3,51 triliun kepada 61.643 debitur. Dibandingkan periode yang sama pada Juli 2025, nilai penyaluran KUR meningkat 22,35 persen. Sementara jumlah debiturnya bertambah 4,70 persen.
Untuk pembiayaan UMi, total penyaluran hingga Juli 2026 tercatat sebesar Rp72,91 miliar kepada 14.268 debitur. Secara nominal, angka tersebut mengalami pertumbuhan 0,58 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Namun, jumlah penerima pembiayaan turun 0,79 persen.
Jika dilihat berdasarkan wilayah, Kabupaten Kediri menjadi daerah dengan penyaluran kredit program terbesar di wilayah kerja KPPN Kediri. Total penyaluran mencapai Rp1,71 triliun kepada 36.430 debitur.
Dibandingkan Juli 2025, nilai penyaluran di Kabupaten Kediri meningkat 16,42 persen, sedangkan jumlah debiturnya tumbuh 3,03 persen.
Baca juga :Β FKIJK Kediri-Madiun Perkuat Literasi dan Inklusi Keuangan Syariah Lewat Financial Journalist Class
Kabupaten Nganjuk berada di posisi berikutnya dengan total penyaluran sebesar Rp957,26 miliar kepada 21.178 debitur. Nominal kredit program di daerah tersebut tumbuh 28,13 persen secara tahunan, sementara jumlah debiturnya meningkat 7,80 persen.
Di Kabupaten Trenggalek, penyaluran kredit program mencapai Rp641,69 miliar kepada 13.141 debitur. Secara tahunan, nilai penyaluran mengalami pertumbuhan 21,12 persen, sedangkan jumlah debiturnya hanya meningkat 0,11 persen.
Sementara Kota Kediri mencatatkan penyaluran sebesar Rp273,64 miliar kepada 5.162 debitur. Jumlah debiturnya tumbuh 0,62 persen, namun nilai penyaluran melonjak hingga 40,14 persen. Pertumbuhan tersebut menjadi yang tertinggi secara nominal di antara empat wilayah kerja KPPN Kediri.
Secara regional, kontribusi wilayah kerja KPPN Kediri terhadap penyaluran kredit program di Jawa Timur juga cukup besar. Hingga 31 Juli 2026, total kredit program yang disalurkan di Jawa Timur mencapai Rp33,98 triliun kepada 757.337 debitur.
Dari jumlah tersebut, wilayah Kediri Raya menyumbang 10,32 persen dari total jumlah debitur dan 10,54 persen dari total nominal penyaluran kredit program di Jawa Timur.
Di sisi lain, penerimaan dan belanja APBN di wilayah Kediri Raya masih menghadapi sejumlah tekanan. Penerimaan perpajakan hingga Juli 2026 tercatat sebesar Rp11,50 triliun atau mengalami kontraksi 12,52 persen secara tahunan.
Meski demikian, Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) masih mencatat pertumbuhan 2,41 persen dengan nilai mencapai Rp317,27 miliar. Kenaikan tersebut terutama didorong pertumbuhan pendapatan Badan Layanan Umum yang meningkat 10,13 persen.
Dari sisi belanja, realisasi belanja pemerintah pusat mencapai Rp1,14 triliun atau tumbuh 0,63 persen secara tahunan. Belanja barang meningkat 11,44 persen dan belanja modal tumbuh 11,47 persen.
Sementara belanja pegawai mengalami penurunan sebesar 3,25 persen. Adapun realisasi Transfer ke Daerah mencapai Rp3,51 triliun atau terkontraksi 15,25 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Di tengah tekanan terhadap sejumlah indikator APBN tersebut, pertumbuhan kredit program menunjukkan aktivitas pembiayaan bagi masyarakat dan pelaku usaha di Kediri Raya masih terus bergerak.
KUR menjadi pendorong utama pertumbuhan, baik dari sisi nilai penyaluran maupun jumlah debitur. Sementara pembiayaan UMi cenderung stabil dari sisi nominal meskipun jumlah penerimanya sedikit mengalami penurunan.
Dengan total penyaluran yang telah mencapai Rp3,58 triliun hingga Juli 2026, kredit program menjadi salah satu indikator positif bagi perekonomian Kediri Raya di tengah dinamika kinerja APBN regional yang masih menghadapi tekanan.***
Reporter: Ahmad Bayu
Editor : Hadiyin






Responses (2)