Membanggakan, Santri di Kediri Mandiri Secara Ekonomi,  Raup Untung dari Bisnis Basreng dan Makaroni

Membanggakan, Santri di Kediri Mandiri Secara Ekonomi,  Raup Untung dari Bisnis Basreng dan Makaroni
Salah satu produk Azkiya (Khoirunnisa)

KEDIRI, LINGKARWILIS.COM –  Seorang santri asal Bandung bernama Azkiya, yang mondok di salah satu pondok pesantren di wilayah Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri  membangun usaha camilan kekinian berupa basreng (bakso goreng), makaroni, dan kerupuk seblak kering. Berangkat dari keinginan meringankan beban orang tua dan memanfaatkan waktu luang di pondok, santri yang juga kuliah di  Universitas Islam Tribakti (UIT) Lirboyo Kota Kediri itu kini sudah mandiri secara ekonomi.

Ditemui di lokasi pondok, pada kontributor Lingkarwilis.com, Azkiya mengaku makanan khas Jawa Timur kurang cocok di lidahnya, sehingga ia berinisiatif mengenalkan cita rasa kuliner asal Bandung kepada teman-teman pondok. Karena banyak yang gemar dan suka kemudian dia memproduksi basreng kering dengan aneka varian rasa.

bayar PBB Kota Kediri bayar PBB Kota Kediri

Dengan modal awal sekitar Rp 600 ribu, ia membeli bahan baku, timbangan dan plastik kemasan. Produk dijual dalam tiga ukuran yakni  250 gram seharga Rp15.000, 200 gram seharga Rp10.000, dan 100 gram seharga Rp5.000. Sedangkan bahan diperoleh dari distributor yang menyediakan adonan siap potong, sehingga proses produksi lebih efisien.

Azkiya tidak bekerja sendirian. Beberapa rekan pondok turut membantu, mulai dari pemotongan bahan hingga proses pengemasan. Semua kegiatan produksi dilakukan di lingkungan pondok. Namun, ia mengaku varian rasa rujak menjadi tantangan tersendiri karena proses pengadukan bumbunya lebih rumit.

“Varian yang paling laris sekarang itu chili oil. Banyak banget penggemarnya, terutama di kalangan remaja,” ujarnya, Rabu (16/10/2025).

Proses produksi dilakukan pada malam hari, karena waktu luangnya terbatas. Ia kerap menyelesaikan pekerjaan hingga pukul 01.30 atau 02.00 dini hari. Akibatnya, ia sering merasa mengantuk di kelas, meski memastikan hal itu tidak berpengaruh pada nilai akademiknya.

Tantangan terbesar baginya adalah mengatur waktu dan tenaga kerja. Dalam hal pemasaran, Azkiya memanfaatkan media sosial sekaligus promosi dari mulut ke mulut di lingkungan pondok dan kampus. Strategi sederhana ini terbukti efektif menarik pelanggan tetap.

Meski hasil penjualan belum cukup menutupi biaya kuliah, Azkiya merasa bangga karena sudah bisa mandiri secara finansial. Ia juga mengatur keuangan usahanya secara terpisah antara modal, keuntungan, dan uang pribadi.

“Untuk ke depan, saya ingin tetap melanjutkan usaha ini sebagai pekerjaan sampingan. Tapi fokus utama saya nanti tetap bekerja sesuai jurusan kuliah,” ungkapnya.***

Penulis: Khoirunnisa

Editor : Hadiyin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *