Meski Marak Pijat Modern, Jasa Pijat Tradisional di Nganjuk Tetap Diminati

Di Tengah Maraknya Pijat Modern, Jasa Pijat Tradisional di Nganjuk Tetap Diminati
Mbak Yeni, tukang pijat tradisional di Nganjuk yang tidak pasang tarif, dan gratis bagi anak yatim piatu. (muji)

Nganjuk, LINGKARWILIS.COM — Di tengah menjamurnya klinik kesehatan, panti pijat modern, hingga spa berkonsep mewah, keberadaan tukang pijat tradisional di Kabupaten Nganjuk justru tetap bertahan dan diminati.

Kepercayaan masyarakat terhadap sentuhan tangan tradisional yang dianggap lebih “kena” menjadi alasan utama eksistensi profesi ini tak tergeser zaman.

bayar PBB Kota Kediri bayar PBB Kota Kediri

Berbekal kekuatan jempol, minyak urut, serta ilmu yang diwariskan turun-temurun, para pemijat tradisional tidak sekadar menawarkan layanan fisik, tetapi juga merawat warisan budaya kesehatan Nusantara.

Prinsip yang mereka pegang sederhana: melancarkan peredaran darah dan mengendurkan urat-urat tubuh yang tegang.

Baca juga : Dorong Profesionalisme ASN, Pemkot Kediri Terapkan Kenaikan Pangkat hingga 12 Periode per Tahun

Meski tanpa latar belakang pendidikan medis formal, banyak pemijat tradisional memiliki kepekaan tinggi dalam mendeteksi titik nyeri hanya dengan sentuhan tangan. Kemampuan tersebut tumbuh dari pengalaman panjang dan insting yang terasah.

Salah satu pemijat tradisional yang dikenal luas di Nganjuk adalah Indra Yanik, warga RT 06 RW 03 Dusun Goklingo, Desa Setren, Kecamatan Rejoso. Perempuan kelahiran Nganjuk, 24 April 1985, yang akrab disapa Mbak Yeni ini telah menekuni profesi pijat tradisional sejak 2013.

Menurut pengakuannya, hampir setiap hari selalu ada pelanggan yang datang. Dalam sehari, rata-rata lima orang memanfaatkan jasanya, baik dengan datang langsung ke rumah maupun memanggilnya ke kediaman pelanggan.

“Biasanya mereka datang setelah merasa kecapekan. Tapi sering juga saya dipanggil ke rumah pelanggan,” ujar Mbak Yeni, Minggu (25/1/2026).

Baca juga : Dukung Asta Cita Presiden, Persada Sukarno Kediri Siapkan Pilot Project BINLAT dan Laboratorium Karakter Bangsa

Ia menuturkan, keterampilan memijat yang dimilikinya bukan hasil kursus atau pelatihan resmi, melainkan warisan keluarga yang dipelajari secara otodidak. Baginya, pijat tradisional bukan hanya soal tekanan otot, tetapi juga memahami aliran energi dalam tubuh manusia.

Awal mula Mbak Yeni terjun ke dunia pijat tradisional berangkat dari pengalaman sederhana. Saat itu, seorang tetangga mengeluhkan badan terasa “gregesi” dan meminta dipijat. Meski belum pernah memijat sebelumnya, ia memberanikan diri membantu.

“Alhamdulillah, setelah dipijat kondisinya langsung membaik. Dari situ kabarnya menyebar ke warga lain,” kenangnya.

Seiring waktu, pelanggan Mbak Yeni tidak hanya orang dewasa. Anak-anak hingga balita yang mengalami sawan pun kerap dibawa kepadanya. Bahkan, ia juga sering dimintai bantuan untuk memijat pasien stroke, batuk pilek, hingga kasus keseleo.

“Kadang orang langsung dibawa ke rumah saya karena keseleo atau pegal berat. Alhamdulillah banyak yang sembuh,” tuturnya.

Dengan durasi pijatan mencapai dua jam, pelanggan merasakan relaksasi menyeluruh. Otot yang semula kaku perlahan kembali lentur. Jasa Mbak Yeni pun tak terbatas di wilayah Nganjuk. Ia mengaku kerap mendapat panggilan hingga ke Madiun, Bojonegoro, dan Jombang.

Menariknya, Mbak Yeni tidak pernah mematok tarif tertentu. Ia membebaskan pelanggan memberi imbalan seikhlasnya. Bahkan, untuk anak yatim piatu, ia menggratiskan jasanya.

“Bagi saya, rezeki sudah ada yang mengatur. Kesembuhan pelanggan itu yang utama. Ada hak orang lain juga dalam rezeki yang saya terima,” ucapnya.

Keberadaan tukang pijat tradisional seperti Mbak Yeni menjadi bukti bahwa di tengah kemajuan teknologi dan layanan modern, kehangatan sentuhan tangan manusia tetap memiliki tempat tersendiri di hati masyarakat.***

Editor  : Muji Hartono

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *