KEDIRI — Gelaran Mujahadah Qubro di Pondok Pesantren Kedunglo kembali menjadi magnet ribuan jamaah dari berbagai daerah. Selain menguatkan spiritualitas, kegiatan keagamaan ini juga menghadirkan dampak ekonomi nyata bagi warga sekitar, khususnya di kawasan Gang Jambu, Kelurahan Bandar Lor, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri.
Momentum mujahadah dimanfaatkan warga dengan beragam cara sederhana namun bermakna. Sriati, salah satu warga setempat, menyulap rumahnya menjadi tempat singgah bagi jamaah yang membutuhkan ruang istirahat. Teras dan ruang tamu rumahnya nyaris tak pernah kosong, terutama dipenuhi jamaah dari Madura dan daerah lain.
Menariknya, Sriati tidak menetapkan tarif sewa. Ia memilih mengedepankan keikhlasan.
“Saya tidak memasang harga. Seikhlasnya saja, yang penting jamaah bisa istirahat dengan nyaman sebelum mengikuti mujahadah,” ujarnya, Sabtu (10/1/2026).
Selain membuka rumah, Sriati juga menggelar lapak kecil di depan kediamannya. Ia menjajakan buah-buahan segar serta air minum dalam kemasan AK (Air Kedunglo) yang menjadi favorit jamaah karena praktis dibawa.
Baca juga : Pemkot Kediri Berlakukan Sistem Satu Arah di Jalan Stasiun, Disiapkan Jadi Ikon Pariwisata Kota
“Air AK paling banyak dicari. Biasanya jamaah membeli untuk bekal selama kegiatan,” tuturnya.
Tak jauh dari rumah Sriati, berkah mujahadah juga dirasakan Bonawi. Setiap mujahadah digelar, toilet di rumahnya berubah fungsi menjadi fasilitas umum dadakan. Sejak pagi hingga malam, jamaah silih berganti memanfaatkan kamar kecil tersebut.
Bonawi mematok tarif Rp2.000 per sekali pakai, angka yang dinilai terjangkau dan sangat membantu jamaah.
“Ramai sekali kalau sudah mujahadah. Capek, tapi senang karena bisa membantu sekaligus dapat rezeki tambahan,” kata Bonawi.
Keberadaan toilet warga menjadi penopang penting kenyamanan jamaah, mengingat keterbatasan fasilitas umum di sekitar lokasi acara. Bagi jamaah, fasilitas sederhana di gang-gang kecil ini justru menjadi solusi yang sangat berarti.
Sementara itu, sektor parkir juga tak luput dari limpahan rezeki. Mas Jonet, pengelola lahan parkir pribadi di sekitar area mujahadah, mengungkapkan bahwa lahannya yang berkapasitas sekitar 40 mobil hampir selalu penuh, terutama pada akhir pekan pelaksanaan kegiatan.
Baca juga : Pemkab Kediri Alokasikan Rp 68 Miliar untuk Perbaikan Jalan Rusak pada 2026
Untuk kendaraan roda empat, ia mematok tarif Rp20.000 per mobil per acara, sedangkan sepeda motor Rp10.000. Penghitungan dilakukan per agenda, mengingat kegiatan berlangsung sejak pagi hingga malam hari.
“Kalau besoknya ada kegiatan lagi, dihitung per acara lagi,” jelasnya.
Mas Jonet menuturkan, mujahadah yang rutin digelar dua kali dalam setahun tersebut selalu menunjukkan tren peningkatan jumlah jamaah.
“Setiap tahun jamaah terus bertambah. Suasananya jauh lebih ramai dibanding tahun-tahun sebelumnya,” ungkapnya.
Meski demikian, ia menegaskan pengelolaan parkir tetap mengedepankan kepatutan.
“Ini kegiatan ibadah, bukan wisata. Kami berusaha menetapkan tarif yang wajar agar jamaah tetap nyaman,” katanya.
Rangkaian aktivitas warga mulai dari rumah singgah, lapak sederhana, toilet umum hingga lahan parkir menjadi potret bagaimana Mujahadah Qubro tidak hanya menghadirkan kekhusyukan ibadah, tetapi juga menggerakkan ekonomi kerakyatan secara alami.
Di Gang Jambu dan sekitarnya, doa dan usaha berjalan seiring. Mujahadah Qubro pun menjelma sebagai ruang spiritual yang sekaligus menumbuhkan solidaritas sosial dan kesejahteraan warga Kediri.***
Reporter : Agus Sulistio Budi
Editor : Hadiyin





