Nganjuk, LINGKARWILIS.COM – Mohammad Anang Arianto (34) tampak berjalan memasuki halaman SD Negeri Gondang Pace seperti guru pada umumnya. Penampilannya sederhana, tak mencolok, namun menyimpan kisah pilu di balik keteguhan mengabdi.
Sepatu hitam bersol putih yang dikenakannya terlihat sudah rusak, robek di bagian tumit hingga menampakkan bagian dalamnya. Meski demikian, ia tetap melangkah mantap menuju ruang kelas untuk mengajar.
Anang telah mengabdi selama tujuh tahun sebagai guru agama Islam. Namun, pengabdiannya sebagai “pahlawan tanpa tanda jasa” belum sejalan dengan kesejahteraan yang ia terima.
Berstatus guru pengganti, ia hanya memperoleh honor sebesar Rp400 ribu per bulan. Ironisnya, uang tersebut bukan berasal dari anggaran sekolah, melainkan pemberian pribadi dari guru yang ia gantikan.
Baca juga : Cegah Radikalisme, Kejati Jatim Turun ke Pesantren di Nganjuk
“Kalau ada uang lebih, pasti saya prioritaskan untuk beli sepatu. Tapi saat ini yang penting bisa sampai ke sekolah dan mengajar anak-anak dengan baik,” ungkapnya, Senin (2/2/2026)
Honor yang diterimanya sebagian besar habis untuk biaya bahan bakar dan kebutuhan makan sehari-hari selama sebulan.
Demi mencukupi kebutuhan keluarganya, Anang harus beralih profesi setiap sore. Setelah mengajar, ia mengenakan jaket ojek online dan bekerja hingga larut malam.
“Saya tidak bisa berhenti. Murid-murid di sekolah masih menunggu saya, dan keluarga juga membutuhkan saya,” tuturnya.
Kondisi Anang semakin sulit karena hingga kini namanya belum tercantum dalam Data Pokok Pendidikan (Dapodik). Padahal, ia telah dua kali mengajukan pendataan. Tanpa terdaftar di Dapodik, aksesnya terhadap berbagai bantuan dan kesejahteraan dari pemerintah tertutup.
Kepala SDN Gondang Pace, Mohamad Sukirno, mengakui kondisi memprihatinkan yang dialami Anang serta dua tenaga honorer lainnya, yakni Siti Komariyah dan Binti Mariatil Qiftiah. Ia menyatakan pihak sekolah terkendala aturan anggaran.
Baca juga : BMKG Peringatkan Potensi Bencana Hidrometeorologi di Februari, BPBD Kediri Minta Warga Waspada
“Kami sangat prihatin, tetapi sekolah tidak memiliki alokasi anggaran khusus untuk mereka. Honor yang mereka terima saat ini berasal dari guru yang mereka gantikan secara pribadi,” jelas Sukirno.
Meski berangkat mengajar dengan sepatu yang sudah rusak, semangat Anang tidak pernah pudar. Di mata para murid, ia tetap menjadi sosok guru yang inspiratif.
“Pak Anang mengajar dengan sabar dan sering bercerita menarik. Kami tidak tahu kalau beliau menghadapi kesulitan seperti ini,” ujar Siti Nurhaliza, siswi kelas 6.
Kisah Anang menjadi potret nyata ketimpangan kesejahteraan tenaga pendidik honorer. Di balik sepatu yang telah jebol, tersimpan harapan besar agar pemerintah segera memberi perhatian dan keadilan bagi mereka yang telah mengabdikan diri demi mencerdaskan generasi bangsa.***
Reporter: Inna Dewi Fatimah
Editor : Hadiyin





