RAMALLAH, LINGKARWILIS.COM – Presiden Palestina Mahmoud Abbas memimpin rapat Komite Sentral Fatah di markas besar kepresidenan di Ramallah, Senin (21/4).
Dilansir dari laman kantor berita Palestina, Wafa, pertemuan ini diawali dengan pembacaan surah Al-Fatihah sebagai penghormatan bagi para syuhada Palestina.
Dalam kesempatan itu, Abbas menyampaikan belasungkawa atas wafatnya Paus Fransiskus, seraya memuji komitmen pemimpin Vatikan tersebut terhadap keadilan, perdamaian, dan hak asasi manusia, termasuk dukungannya terhadap rakyat Palestina. Ia juga menyoroti kontribusi Paus dalam mengakui Negara Palestina, pengibaran bendera Palestina di Vatikan, dan kanonisasi dua orang kudus asal Palestina.
Presiden Abbas kembali menegaskan seruannya untuk mengakhiri penderitaan rakyat Palestina di Jalur Gaza, membuka akses ke Yerusalem bagi umat beriman, dan mendesak diterapkannya hukum internasional secara konsisten.
Baca juga : Wali Kota: Air di Jalur Gaza Tak Layak Konsumsi, Krisis Kemanusiaan Kian Parah
Dalam rapat itu, Presiden memaparkan situasi terkini di Palestina, termasuk hasil pertemuan dan kontak diplomatik Arab maupun internasional untuk menghentikan agresi yang terus berlangsung. Ia menegaskan pentingnya penarikan penuh pasukan Israel dari Gaza, penghentian kekerasan di Tepi Barat, serta mendorong pengakuan internasional lebih luas atas Negara Palestina, termasuk status keanggotaan penuh di PBB.
Pertemuan juga membahas persiapan sidang Dewan Pusat Palestina yang akan digelar keesokan harinya. Agenda utama sidang adalah merespons perkembangan terbaru dan memperkuat kesatuan internal menghadapi tantangan perjuangan nasional Palestina.
Komite Sentral mengangkat keprihatinan atas serangan genosida yang terus dilancarkan Israel di Gaza, yang menurut mereka didukung oleh diamnya komunitas internasional. Serangan ini telah menyebabkan lebih dari 200.000 warga Palestina menjadi korban tewas dan luka-luka serta kerusakan besar-besaran di Jalur Gaza.
Komite juga memperingatkan rencana pendudukan Israel untuk kembali menguasai dan memecah-belah Jalur Gaza demi mendorong eksodus rakyat Palestina. Mereka menegaskan bahwa skenario tersebut ditolak oleh rakyat Palestina dan tidak akan diterima oleh komunitas Arab maupun internasional.
Baca juga : Sebanyak 226 Situs Arkeologi di Gaza Rusak akibat Serangan Israel
Lebih lanjut, Komite Sentral Fatah menuntut Dewan Keamanan PBB segera bertindak menghentikan agresi Israel, termasuk serangan terhadap desa-desa dan kamp-kamp di Tepi Barat utara. Mereka juga mendesak diakhirinya kebijakan eksekusi di tempat, pengusiran paksa, serta perusakan infrastruktur dan situs keagamaan, khususnya Masjid Al-Aqsa di Yerusalem.
Komite turut mengimbau Hamas agar menghentikan kebijakan yang dianggap memanfaatkan rakyat Palestina untuk agenda luar, serta bersinergi dengan upaya Presiden Abbas dalam menghentikan pertumpahan darah. Mereka juga menyerukan agar Hamas mematuhi prinsip-prinsip dasar Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) demi persatuan perjuangan nasional.
