Ponorogo, LINGKARWILIS.COM – Puluhan hektar lahan pertanian di Ponorogo menghadapi ancaman keterlambatan panen akibat meningkatnya tingkat keasaman tanah, yang dikenal petani dengan istilah ‘asem-aseman’. Kondisi ini berdampak pada pertumbuhan tanaman padi, sehingga hasil panen berisiko tertunda.
Berdasarkan data dari Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan, dan Perikanan (Dispertahankan) Ponorogo, sekitar 50 hektar sawah di Kecamatan Badegan, Sampung, Jambon, Kauman, dan Sukorejo mengalami kondisi ini.
Keasaman tanah yang meningkat disebabkan oleh kesulitan lahan dalam mengeringkan air akibat curah hujan tinggi yang terus-menerus mengguyur wilayah tersebut.
Baca juga : Lima Kapolsek dan Kasat Narkoba Polres Kediri Berganti, Ini Daftar Penggantinya
Koordinator Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tanaman, Dispertahankan Ponorogo, Suwarni, menjelaskan bahwa kondisi ini mengakibatkan pH tanah turun hingga di bawah 5, yang berdampak langsung pada pertumbuhan padi.
“Ketika pH tanah terlalu asam, akar tanaman sulit menyerap nutrisi dengan optimal, sehingga pertumbuhan padi menjadi stagnan dan panen terhambat,” ujar Suwarni, Jumat (7/2/2025).
Untuk mengatasi masalah ini, Dispertahankan Ponorogo telah memberikan penyuluhan kepada para petani terkait langkah-langkah pemulihan lahan.
Salah satu solusi yang disarankan adalah pembuatan saluran drainase guna mengurangi genangan air serta penerapan mikroorganisme tertentu yang mampu menyeimbangkan kembali tingkat keasaman tanah.
Baca juga : Dispendukcapil Kabupaten Kediri Permudah Ibu Melahirkan dengan Layanan Adminduk Lengkap
“Kunci utama adalah mengurangi genangan air dengan membuat saluran pembuangan yang efektif. Selain itu, pemberian mikroorganisme yang tepat dapat membantu mengembalikan kesuburan tanah dan menormalkan tingkat keasamannya,” jelas Suwarni.
Lebih lanjut, Suwarni menekankan bahwa tindakan pencegahan sebaiknya dilakukan sebelum masa tanam dimulai agar kondisi tanah kembali optimal. Dengan demikian, risiko keterlambatan panen akibat keasaman tanah dapat diminimalisir.
“Ciri utama lahan yang terkena asem-aseman adalah pertumbuhan padi yang stagnan dan kurang maksimal. Oleh karena itu, perbaikan kondisi tanah harus dilakukan sebelum masa tanam agar hasil panen tidak terganggu,” pungkasnya.
Dengan langkah-langkah tersebut, diharapkan petani dapat mengelola lahan mereka lebih efektif dan menghindari kerugian akibat gangguan pertumbuhan tanaman padi.***
Reporter: Sony Dwi Prastyo
Editor: Hadiyin





