Blitar, LINGKARWILIS.COM – Lebaran benar-benar momen yang paling ditunggu pelaku usaha produsen criping pisang. Reni Setyowarni salah satunya. Warga Kelurahan Sukorejo, Kecamatan Sukorejo, Kota Blitar ini kebanjiran pesanan. Pesanan pun datang dari Hongkong.
Aroma gurih langsung menyambut ketika menginjakkan kaki di salah satu gang di Jalan Sukun Kampung Baru Kota Blitar. Dari kejauhan tampak sejumlah warga lanjut usia dengan telaten mengupas satu demi satu pisang yang masih segar.
Pisang nangka, sebutannya menumpuk di teras rumah yang menghadap ke timur itu. Di ruang lain, tampak beberapa perempuan menggoreng pisang, ada pula yang memasukkan ke plastik kemasan. Ya, itulah suasana produsen criping pisang yang digeluti Reni Setyowarni. Perempuan kelahiran 45 tahun ini menekuni usaha jajanan berupa criping pisang.
Baca juga :Β Hamas Serukan Aksi Global Menentang Agresi Israel di Gaza
“Ya beginilah suasananya, ramai. Karena memang kejar pengiriman. Pesanan terus banyak,” kata Reni, panggilan akrabnya ditemui di rumahnya.
Ibu dua anak ini menekuni usaha criping pisang tak lama. Sekitar 2023 lalu. Saat itu dirinya mendapatkan pelatihan dari Pemkot Blitar membuat criping pisang. Usa mendapatkan pelatihan langsung mempraktikkan.
“Bekalnya nekat. Karena memang saya tipenya umek. Pokoknya harus berhasil dalam usaha. Wong gampang kok bikinnya,” katanya. Awal-awal memproduksi hanya sedikit. Sekaligus tes pemasaran dan respon. Tak disangka, ternyata banyak yang minta dibuatkan. Karena criping pisangnya renyah dan enak. “Sejak saat itu saya semakin terpacu untuk membuat yang lebih banyak,” kata alumnus SMKN 2 Blitar ini.
Baca juga :Β Polisi Tangkap Mahasiswa Peracik Serbuk Mercon, Jualan via Media Sosial
Lambat laun, pesanan semakin banyak. Bukan hanya dari tetangga tetapi juga para koleganya. Pesanan semakin banyak setelah pemasaran merambah ke marketplace.
“Dari situlah pesanan banyak dan tak hanya dari Blitar tetapi juga dari Hongkong. Peminat dari Hongkong ini para pekerja migran Indonesia,” katanya.
Untuk pembuatan pun gampang. Bahan baku pisang raja nangka dikupas dan diiris menggunakan mesin. Selanjutnya digoreng dan tinggal pengemasan. Untuk bahan baku pisang tak sulit. Banyak penjual yang datang. Minimal 1 pikap isi pisang.
Nah, produknya diminati karena tersedia berbagai rasa. Mulai original, coklat, macha, tiramisu, manis dan lain sebagainya. Jelang Lebaran ini banjir pesanan. Jika biasanya dalam sebulan pesanan hanya 80 kilogram, saat ini bisa tembus hingga 5 kuintal per bulan.
Hari biasa sebulan omzet Rp 6 juta, jelang Lebaran tembus Rp 25 juta. Untuk pemasaran mulai Kalimantan, Jawa Tengah hingga Hongkong.
“Saya dibantu 6 karyawan. Alhamdulillah bisa memberdayakan tetagga juga,” katanya.
Untuk harga 250 gram Rp 15 ribu rasa manis, rasa original Rp 58 per kilogram. Sementara ukuran 500 gram Rp 30 ribu.***
Reporter : Aziz Wahyudi
Editor : Hadiyi





