PONOROGO, LINGKARWILIS.COM – Puluhan ribu ikan budidaya di Telaga Ngebel, Kabupaten Ponorogo, dilaporkan mati secara tiba-tiba, menyebabkan kerugian besar bagi belasan petani keramba. Fenomena ini terjadi diduga akibat naiknya gas belerang dari dasar telaga ke permukaan.
Air telaga yang berubah warna kehijauan dan berbau menyengat menjadi indikasi kuat adanya pergerakan belerang dari dasar perairan.
Salah satu petani keramba, Ismail Hadi, mengungkapkan bahwa gejala kematian ikan mulai terlihat sepekan lalu, saat ikan-ikan mulai terlihat mengambang di permukaan air.
“Puncaknya kemarin, banyak yang mati karena kekurangan oksigen,” jelasnya, Rabu (9/7/2025).
Baca juga : Perkuat Sektor Tengah, Persik Kediri Resmi Gaet Syahrian Abimanyu
Ismail menambahkan bahwa fenomena ini bukan hal baru. Ia menyebutkan bahwa kondisi serupa kerap terjadi setiap tahun, terutama di awal dan pertengahan tahun. Namun, hingga kini belum ada solusi konkret dari pemerintah daerah.
“Sudah jadi langganan tiap tahun, tapi belum ada penanganan dari pemerintah,” keluhnya.
Ribuan ikan yang mati kebanyakan adalah jenis nila yang sudah mendekati masa panen. Untuk mencegah kerugian yang lebih besar, sebagian petani memilih memanen lebih awal ikan-ikan yang masih hidup.
“Kerugian saya sekitar Rp 10 juta. Yang mati tidak bisa dijual, jadi dikubur saja. Yang masih hidup langsung dipanen,” tambahnya.
Tak hanya merugikan petani, fenomena ini juga berdampak pada kenyamanan wisatawan yang datang ke Telaga Ngebel. Bau belerang yang menyengat tercium hingga ke tepi telaga dan mengganggu aktivitas pengunjung.
Baca juga : Modus COD, Pemuda Kediri Tipu Pelajar dan Gasak Motor Pakai Uang Mainan
“Bau belerangnya cukup menyengat, kemarin bahkan lebih parah. Air juga kelihatan keruh dan agak kecokelatan,” ungkap Slamet Riyadi, salah satu wisatawan.
Situasi ini memunculkan kekhawatiran akan dampak jangka panjang bagi sektor budidaya ikan dan pariwisata di kawasan Telaga Ngebel, yang selama ini menjadi andalan ekonomi masyarakat setempat.***
Reporter: Sony Dwi Prastyo
Editor: Hadiyin





