TULUNGAGUNG, LINGKARWILIS.COM – Satuan Tugas Makan Bergizi Gratis (MBG) Tulungagung telah mengamankan sampel makanan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Yayasan Mutiara Rawa Selatan yang diduga menjadi penyebab kasus diare pada pelajar SMK Negeri 3 Boyolangu. Seluruh sampel tersebut selanjutnya akan dikirim ke Balai Besar Laboratorium Kesehatan (BBLK) Surabaya untuk menjalani uji laboratorium.
Kepala Bidang Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Tulungagung, dr. Aris Setiawan, menjelaskan bahwa tim Dinkes telah mendatangi langsung lokasi SPPG Yayasan Mutiara Rawa Selatan guna mengamankan sampel makanan MBG yang dikonsumsi pelajar pada Senin (19/1/2026).
“Sampel sudah kami ambil dan kondisinya masih lengkap, mulai dari bumbu kuning, ayam, selada, air minum, hingga sambal. Seluruhnya akan kami kirim ke BBLK Surabaya untuk dilakukan pemeriksaan laboratorium,” ujar dr. Aris Setiawan, Rabu (21/1/2026).
Baca juga : Pemutaran Film Pendek Jaga Desa di Kota Kediri Mendapat Apresiasi, Khususnya Karya dari Kelurahan Banjaran
Ia menjelaskan, pengambilan sampel tersebut dilakukan untuk memastikan secara ilmiah apakah menu MBG tersebut menjadi penyebab keluhan diare yang dialami ratusan pelajar. Sampel yang diamankan merupakan menu yang sama dengan hidangan yang diterima siswa SMK Negeri 3 Boyolangu.
Terkait mekanisme operasional SPPG, Aris menyampaikan bahwa setiap penyedia layanan MBG diwajibkan menyiapkan satu porsi makanan khusus sebagai sampel setiap kali memasak. Sampel tersebut disimpan sebagai bagian dari langkah antisipasi apabila terjadi dugaan keracunan makanan.
Ketentuan tersebut merupakan bagian dari standar operasional prosedur (SOP) yang ditetapkan oleh Badan Gizi Nasional (BGN) dan wajib diterapkan oleh seluruh SPPG. Sampel makanan disimpan di ruang pendingin dengan suhu tertentu sesuai SOP, dengan masa simpan maksimal sekitar satu minggu.
“Ini memang sudah menjadi SOP. Setiap SPPG wajib menyimpan satu porsi sampel dari menu MBG yang disajikan kepada penerima manfaat,” jelasnya.
Baca juga : Kasus PMK di Kediri: 17 Ekor Sapi Dinyatakan Sembuh dari Total 91 Ternak Terpapar
Terkait kondisi pelajar SMK Negeri 3 Boyolangu, Aris menambahkan bahwa pihaknya masih menunggu laporan resmi dari seluruh puskesmas. Berdasarkan informasi awal, gejala diare rata-rata muncul sekitar 12 jam setelah para pelajar mengonsumsi menu MBG tersebut.
“Kemungkinan besar keluhan muncul pada malam hari, sehingga sebagian pelajar melakukan pengobatan mandiri dan tidak langsung datang ke puskesmas,” ungkapnya.
Meski demikian, Dinas Kesehatan Tulungagung tetap melakukan pendataan lanjutan untuk memastikan kondisi kesehatan para pelajar. Hingga saat ini, keluhan serupa belum ditemukan pada penerima MBG lainnya yang dilayani oleh SPPG Yayasan Mutiara Rawa Selatan.
Sebagai langkah antisipasi, Dinkes Tulungagung telah menyiagakan seluruh 32 puskesmas untuk memberikan pelayanan apabila ada pelajar yang membutuhkan penanganan medis lanjutan.
“Pemantauan terus kami lakukan sambil menunggu hasil uji laboratorium dari BBLK Surabaya,” pungkas Aris.***
Reporter: Mochammad Sholeh Sirri
Editor: Hadiyin






