Tulungagung, LINGKARWILIS.COM – Sebanyak 115 warga binaan pemasyarakatan (WBP) di Lapas Kelas IIB Tulungagung saat ini mengikuti program pembinaan kemandirian yang memungkinkan mereka menghasilkan berbagai produk bernilai ekonomi. Tak hanya memberi keterampilan, program ini juga memberi penghasilan tambahan berupa tabungan hingga ratusan ribu rupiah setiap bulannya.
Kepala Lapas Kelas IIB Tulungagung, Ma’ruf Prasetyo Hadianto, menyampaikan bahwa dari total 711 warga binaan yang tengah menjalani masa hukuman, lebih dari 100 orang sudah aktif mengikuti program ini. Tujuannya adalah membekali mereka dengan keahlian praktis yang dapat digunakan saat kembali ke masyarakat.
“Program ini dirancang agar para WBP tetap produktif dan memiliki bekal keterampilan saat kembali menjalani kehidupan di luar nanti,” jelas Ma’ruf, Rabu (6/8/2025).
Baca juga : Tiga Hari Hilang di Sungai Brantas, Pemancing Asal Kediri Ditemukan Selamat dalam Kondisi Lemas
Ragam kegiatan yang dijalankan dalam program kemandirian mencakup pembuatan kerajinan marmer (handicraft), produksi konveksi, jasa potong rambut (barbershop), serta budidaya ikan lele dan peternakan kambing. Produk-produk hasil pelatihan ini telah dipasarkan dan memperoleh respons positif dari berbagai instansi.
Sebagai contoh, bagian konveksi telah memproduksi sekitar 450 celemek untuk kebutuhan dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG). Sementara itu, produk kerajinan seperti plakat, asbak marmer, dan sandal hasil tangan warga binaan telah dipesan oleh Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjen PAS) Kemenkumham.
“Produk konveksi seperti celemek dipesan oleh pihak ketiga, dan kerajinan marmer menjadi pesanan tetap dari Ditjen Pemasyarakatan,” terang Ma’ruf.
Tak hanya membangun keterampilan, para peserta program juga memperoleh insentif dalam bentuk premi. Setiap warga binaan yang berhasil memproduksi dan menjual hasil karyanya, akan menerima bagian 40 persen dari nilai penjualan. Premi ini langsung disimpan ke tabungan pribadi mereka.
Baca juga : Sambel Pecel Jadi Cerita Favorit Jamaah Haji Kabupaten Kediri, Mas Dhito Ikut Tersenyum
“Dari premi tersebut, warga binaan bisa mengumpulkan antara Rp500 ribu hingga Rp700 ribu per bulan. Semua tergantung dari jumlah dan kualitas produksi yang berhasil mereka hasilkan,” imbuhnya.
Program ini diharapkan menjadi jembatan reintegrasi sosial bagi para warga binaan, dengan menciptakan pribadi yang mandiri, produktif, dan siap kembali berkontribusi positif di tengah masyarakat.***
Reporter : Sholeh Sirri
Editor : Hadiyin





