LAMONGAN, LINGKARWILIS.COM – Universitas Islam Lamongan (UNISLA) berkolaborasi dengan Universitas Trunojoyo Madura (UTM) menghadirkan inovasi teknologi tepat guna berupa mesin pengering padi berkapasitas hingga 500 kilogram.
Inovasi tersebut dikembangkan untuk membantu petani mengatasi persoalan pengeringan gabah yang selama ini masih bergantung pada proses penjemuran menggunakan sinar matahari.
Kolaborasi lintas perguruan tinggi ini melibatkan tim yang diketuai Dr. Millatul Ulya, S.TP., M.T., bersama Dr. M. Fuad Fauzul Mu’tamar, M.Si., dari Fakultas Pertanian UTM serta Dr. Mohammad Yaskun, S.E., M.M., dosen Program Studi Manajemen sekaligus Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UNISLA.
Dalam implementasinya, tim juga melibatkan dua mahasiswa yang berperan dalam proses penerapan teknologi sekaligus pendampingan kepada petani.
Baca juga : Tampil Impresif, DPC PKDI Lamongan Gilas Tuban 5-0 dan Kunci Tiket 12 Besar
Kerja sama tersebut menjadi bagian dari upaya perguruan tinggi agar hasil riset tidak hanya berhenti di lingkungan akademik, tetapi dapat diterapkan dan memberikan manfaat secara langsung bagi masyarakat.
Inovasi mesin pengering padi ini dinilai relevan dengan kondisi Kabupaten Lamongan yang dikenal sebagai salah satu sentra produksi padi di Jawa Timur.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur, produksi padi Kabupaten Lamongan pada 2025 mencapai 904.928 ton Gabah Kering Giling (GKG), dengan luas panen 175.832 hektare.
Besarnya produksi tersebut perlu diimbangi dengan penanganan pascapanen yang memadai. Salah satu tahapan penting dalam menjaga kualitas gabah adalah proses pengeringan.
Ketua tim, Dr. Millatul Ulya, S.TP., M.T., menjelaskan gabah yang baru dipanen harus segera dikeringkan untuk menurunkan kadar air hingga tingkat aman untuk penyimpanan, yakni sekitar 13–14 persen.
“Selama ini sebagian petani masih mengandalkan metode penjemuran gabah secara tradisional di bawah sinar matahari. Cara tersebut memang relatif murah dan mudah dilakukan, tetapi sangat bergantung pada kondisi cuaca,” jelasnya, Rabu (12/8/2026).
Baca juga : PG Meritjan Kediri Jadi Titik Konsolidasi SGN, Dorong Produktivitas dan Revolusi 888
Menurut Millatul, kondisi hujan atau kurangnya intensitas sinar matahari dapat membuat proses pengeringan berlangsung lebih lama. Kondisi tersebut berpotensi menurunkan kualitas gabah.
Penjemuran secara terbuka juga membuat gabah lebih rentan terkena debu, kotoran maupun material lain dari lingkungan sekitar. Apabila pengeringan tidak optimal, risiko pertumbuhan jamur, kerusakan gabah, penurunan mutu hingga berkurangnya nilai jual hasil panen juga semakin besar.
Sebaliknya, proses pengeringan yang tidak terkendali juga dapat menimbulkan persoalan. Suhu terlalu tinggi atau pengeringan yang tidak merata berpotensi menyebabkan kerusakan fisik gabah, meningkatkan persentase beras pecah dan menurunkan kualitas beras.
Berangkat dari persoalan tersebut, tim dosen UTM dan UNISLA mengembangkan mesin pengering padi yang diharapkan mampu membuat proses pengeringan lebih efektif dan terkontrol sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap kondisi cuaca.
Mesin tersebut memiliki kapasitas hingga 500 kilogram gabah dalam satu kali proses. Adapun dimensinya mencapai panjang 240 sentimeter, lebar 120 sentimeter dan tinggi 120 sentimeter.
Teknologi ini diharapkan dapat menjadi alternatif bagi petani maupun kelompok tani dalam meningkatkan efisiensi penanganan pascapanen sekaligus mempertahankan kualitas gabah.
Millatul menjelaskan, mesin pengering tersebut merupakan hasil riset dosen UTM yang kemudian diimplementasikan melalui kolaborasi dengan UNISLA.
“Teknologi mesin pengering padi ini merupakan hasil riset dari dosen UTM. Kami berharap melalui kolaborasi dengan UNISLA, inovasi ini mampu memberikan dampak yang signifikan terhadap perkembangan pertanian di Indonesia, khususnya dalam membantu petani mengatasi persoalan pengeringan gabah,” ujarnya.
Ia menambahkan, perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam memberikan solusi terhadap berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat. Karena itu, pengembangan teknologi pertanian perlu terus didorong agar hasil penelitian di kampus dapat diterapkan secara nyata.
“Kolaborasi ini sejalan dengan semangat ‘Kampus Berdampak’ yang digaungkan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek). Perguruan tinggi tidak hanya berfokus pada pendidikan dan penelitian, tetapi juga harus mampu memberikan kontribusi nyata dalam menyelesaikan permasalahan yang ada di masyarakat,” tambahnya.
Millatul juga mengapresiasi dukungan Direktorat Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek melalui pendanaan kegiatan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM). Dukungan tersebut turut membantu proses pengembangan dan implementasi inovasi mesin pengering padi.
“Terima kasih kami sampaikan kepada Direktorat Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek yang telah memberikan dukungan dana untuk kegiatan PKM ini. Dukungan tersebut sangat berarti dalam mendorong hilirisasi hasil riset dan memperluas manfaat teknologi yang dikembangkan perguruan tinggi,” pungkasnya.***
Reporter: Suprapto
Editor : Hadiyin





