JOMBANG, LINGKARWILIS.COM – Masjid Nurul Iman di Jogoroto, Jombang, kembali mencuri perhatian dengan tradisi salat tarawih kilat. Dengan ritme bacaan super cepat dan gerakan yang lebih singkat dari biasanya, jemaah mampu menuntaskan 23 rakaat tarawih dan witir dalam waktu kurang dari 10 menit—bahkan sebelum segelas kopi sempat dingin.
Tradisi unik ini telah berlangsung sejak awal 2000-an dan masih terus diminati hingga sekarang. Meski berlangsung dalam waktu singkat, pelaksanaan ibadah tetap mengikuti kaidah yang berlaku, tanpa mengurangi jumlah rakaat.
“Ini sudah jadi tradisi di sini,” ujar Muhammad Agus, pengurus Masjid Nurul Iman, usai tarawih pada Sabtu malam (1/3).
Baca juga : Kepala Dinas PUPR Kabupaten Blitar Mundur di Awal Ramadan, Jabatan Kosong
Menurut Agus, tarawih di masjidnya tidak berbeda dalam jumlah rakaat, yakni 20 rakaat tarawih dan 3 rakaat witir. Satu-satunya yang membedakan adalah kecepatan pelaksanaan, yang bisa berkisar antara 7 hingga 10 menit. Bahkan, menurutnya, tahun ini pelaksanaannya sedikit lebih lambat dibanding sebelumnya.
Saat ditanya mengenai tantangan menjalankan tarawih dalam tempo tinggi, Agus mengaku sudah terbiasa sejak kecil. “Biasa saja, karena memang sudah menjadi tradisi sejak lama,” katanya.
Ia juga menekankan bahwa jamaah tetap antusias dan tidak merasa terbebani. Bahkan, tradisi ini justru menjadi ciri khas yang selalu dinanti setiap Ramadan.
baca juga : Wali Kota Kediri Bagikan Pengalaman Retret di Magelang
“Warga di sini sudah tahu bagaimana suasana tarawih di masjid ini. Justru mereka semakin semangat, bukan malah kelelahan,” ungkapnya.
Salah satu jemaah, Asdhaq Fillah, mengaku tidak merasa kesulitan mengikuti gerakan cepat dalam tarawih kilat ini.
“Alhamdulillah, enggak ada yang ketinggalan atau kelelahan. Mungkin karena masih muda juga, jadi bisa mengikuti dengan baik,” tuturnya.
Menurut Asdhaq, dirinya memang sudah terbiasa tarawih di Masjid Nurul Iman setiap Ramadan. “Dari dulu memang seperti ini. Bacaannya cepat, tapi tetap mengikuti aturan. Jadi enggak ada masalah,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa banyak orang datang ke masjid ini karena penasaran, tetapi akhirnya terbiasa dan menikmati sensasi tarawih super cepat.
“Pokoknya unik dan seru. Banyak warga luar desa yang datang hanya untuk merasakan langsung,” katanya.
Kendati banyak yang menikmati tarawih kilat ini, tidak sedikit jemaah lansia yang kesulitan mengikuti gerakan cepat. Meski demikian, fenomena ini tetap menarik perhatian, bahkan membuat warga dari luar daerah berbondong-bondong datang untuk merasakan pengalaman tarawih super cepat khas Jombang.
Tradisi ini menjadi contoh unik dari keberagaman praktik ibadah di Indonesia, yang tetap mempertahankan esensi salat meskipun dalam format yang berbeda dari kebanyakan masjid lainnya.***
Reporter: ST2/AG





