LAMONGAN, LINGKARWILIS.COM — Komitmen mendukung ketahanan pangan nasional ditunjukkan Polres Lamongan melalui aksi nyata dengan menanam jagung di atas lahan baku seluas 10 hektare di Desa Kedali, Kecamatan Pucuk, Kamis (31/7/2025). Langkah ini menjadi bagian dari tindak lanjut instruksi Presiden Prabowo Subianto untuk meningkatkan produktivitas pertanian.
Kegiatan ini dilaksanakan secara kolaboratif bersama PT Nikos Jaya Benih Unggul, serta dihadiri oleh Kepala Dinas Pertanian, Kepala Dinas Pengairan Kabupaten Lamongan, Camat Pucuk, dan Kepala Desa Kedali Imam Mawardi.
Kapolres Lamongan AKBP Agus Dwi Suryanto menegaskan, program ini bukan sekadar seremonial, melainkan bentuk sinergi lintas sektor dalam upaya mewujudkan swasembada pangan.
Baca juga : Harga Gabah Tembus Rp 7.000 per Kilogram, Bulog Kediri Hentikan Penyerapan Langsung
“Ini adalah langkah konkret menindaklanjuti arahan Presiden agar daerah turut mendorong peningkatan produksi pangan. Kami juga bantu benih dan pupuk agar hasilnya optimal,” ujarnya.
Dalam kegiatan ini, AKBP Agus juga memberikan benih jagung unggulan jenis Piton N137 serta pupuk, yang seluruhnya disediakan oleh PT Nikos Jaya Benih Unggul. Target produksi mencapai 8–10 ton per hektare.
Kapolres menambahkan, ke depan Polres Lamongan akan mengembangkan sistem tumpang sari pada lahan tidur dan hutan produktif tanpa merusak ekosistem, serta memperluas cakupan ke komoditas lain seperti padi dan palawija.
“Kami siap memperluas program ini ke wilayah lain asalkan tersedia lahan dan dukungan dari pemangku kebijakan,” tegasnya.
Baca juga : Polsek Pesantren, Kediri, Pastikan Keamanan Keberangkatan IKS PI Kera Sakti ke Madiun
Direktur PT Nikos Jaya, Nurkhan, mengungkapkan bahwa benih jagung N137 Piton dirancang untuk tahan terhadap cuaca ekstrem dan serangan penyakit seperti bulai. Keunggulan benih ini telah terbukti dalam sejumlah uji lapangan dan diyakini mampu mendongkrak hasil panen petani, terutama di lahan kering.
“Kami berharap petani bisa memperoleh hasil maksimal dengan teknologi benih unggul yang tepat guna,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Desa Kedali Imam Mawardi menilai program ini sangat bermanfaat bagi warganya yang mayoritas petani. Ia menuturkan bahwa selain menanam padi dan palawija, para petani kerap mengalami gagal panen akibat serangan tikus, hingga hasil panen merosot hingga hanya 30–40 persen.
Desa Kedali sendiri merupakan daerah tadah hujan yang belum memiliki sistem irigasi memadai. Imam telah mengusulkan agar desa terhubung dengan sumber air dari Rowo di Waru Kulon, namun belum terealisasi. Meski begitu, masyarakat masih bisa memanfaatkan sumur bor dengan kedalaman 12–20 meter.
“Kami harap masyarakat ikut aktif menyukseskan program ini demi peningkatan kesejahteraan dan ketahanan pangan desa,” pungkas Imam.***
Reporter: Suprapto
Editor : Hadiyin





