Ponorogo, LINGKARWILIS.COM – Layanan kesehatan di RSUD Hospitel Bantarangin Ponorogo terus meningkat. Tahun ini, rumah sakit milik Pemkab Ponorogo itu memperoleh dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT) sebesar Rp6 miliar. Anggaran tersebut dialokasikan untuk memperbarui fasilitas medis, penyediaan obat, hingga peningkatan kompetensi sumber daya manusia (SDM).
Direktur RSUD Hospitel Bantarangin, drg. Enggar Tri Adji Sambodo, menjelaskan bahwa pemanfaatan dana tersebut tidak sekadar memenuhi regulasi, melainkan juga menghadirkan rasa aman bagi pasien dan keluarga.
“Dengan adanya dukungan DBHCHT, standar pelayanan yang ditetapkan Kemenkes dan BPJS bisa terpenuhi. Hal ini membuat masyarakat lebih tenang saat menjalani perawatan di rumah sakit,” ujarnya, Senin (25/8/2025).
Baca juga : Petani Kediri Gencar Semprot Lahan di Musim Kemarau untuk Cegah Serangan Wereng
Salah satu dampak nyata adalah penambahan ventilator. Tahun ini, dua unit baru berhasil diadakan. Sebelumnya, hanya tersedia satu ventilator untuk ruang intensive care unit (ICU) dengan empat tempat tidur.
“Ketentuan BPJS mengharuskan minimal 75 persen tempat tidur ICU dilengkapi ventilator. Artinya, harus tersedia tiga. Tambahan dua unit ini membuat kami sesuai standar,” jelas Enggar.
Selain perlengkapan medis, DBHCHT juga digunakan untuk pengembangan SDM rumah sakit. Program pelatihan dan sertifikasi terus digencarkan agar tenaga kesehatan semakin kompeten dan terakreditasi.
Baca juga : Viral! Getaran Sound Horeg di Gedangsewu Kediri Jatuhkan Genteng Rumah Warga
“Kami ingin kualitas SDM meningkat sehingga pelayanan menjadi lebih cepat, tepat, dan sesuai standar,” tambahnya.
Enggar menegaskan, manfaat DBHCHT bukan kali pertama dirasakan. Pada 2024 lalu, Hospitel Bantarangin juga menerima alokasi Rp5 miliar yang difokuskan pada peningkatan layanan serupa.
“Setiap rupiah dana ini benar-benar kami optimalkan demi kepentingan pasien. Sebab, kesehatan masyarakat adalah prioritas utama,” tandasnya.***
Reporter : Sony Prasetyo
Editor : Hadiyin





