GAZA, LINGKARWILIS.COM – Janji gencatan senjata antara Israel dan Hamas kembali menuai sorotan. Sepekan setelah kesepakatan fase pertama diberlakukan, pasukan pendudukan Israel masih membatasi masuknya bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza.
Tindakan ini dinilai sebagai bentuk pengingkaran terhadap komitmen gencatan yang seharusnya membuka akses luas bagi bantuan bagi warga yang menderita akibat agresi berkepanjangan.
Menurut laporan Al Jazeera, sejak dini hari Rabu (15/10), tidak ada satu pun truk bantuan yang melintasi Jalan Salah Al-Din di kawasan Deir Al-Balah, yang menjadi jalur utama distribusi logistik ke wilayah Gaza.
Padahal, dalam kesepakatan gencatan senjata yang ditengahi sejumlah negara, Israel diwajibkan mengizinkan lebih banyak bantuan masuk setiap hari.
Namun, otoritas Israel justru membatasi jumlah truk hanya 300 unit per hari, atau separuh dari angka yang disepakati dalam rencana perdamaian sebelumnya yang diusulkan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Pihak Israel beralasan pembatasan dilakukan karena Hamas disebut melanggar kesepakatan dengan menahan sekitar 20 jenazah tentara Israel. Namun, laporan di lapangan menunjukkan pelanggaran justru dilakukan Israel sejak hari pertama gencatan, dengan melancarkan kembali serangan udara ke sejumlah wilayah Gaza.
Saksi mata menyebutkan, tank-tank Israel menembaki warga sipil di daerah Bani Suheila dan Sheikh Nasser, sebelah timur Khan Younis. Serangan tersebut menimbulkan kepanikan warga yang baru saja meninggalkan tempat perlindungan setelah mendengar pengumuman gencatan.
Dalam kesepakatan fase pertama, kedua pihak sepakat melakukan pertukaran tahanan dan sandera, penarikan sebagian pasukan Israel dari Gaza, penghentian serangan udara, serta pembukaan jalur bantuan kemanusiaan tanpa hambatan.
Baca juga : Ribuan Tentara Trauma dan Krisis Moral, Panglima Militer Israel Sebut Arahan Netanyahu Tidak Jelas
Namun, pembatasan dan serangan lanjutan menunjukkan lemahnya komitmen Israel terhadap perjanjian tersebut.
Sejak agresi militer Israel dimulai pada Oktober 2023, lebih dari 67.000 warga Palestina dilaporkan tewas, ratusan ribu rumah hancur, dan jutaan orang terpaksa mengungsi. Situasi kemanusiaan di Gaza kini berada di titik terburuk, sementara komunitas internasional terus menekan agar akses bantuan dibuka penuh dan gencatan senjata benar-benar ditegakkan.***
Editor : Hadiyin






