JOMBANG, LINGKARWILIS.COM — Masa libur sekolah dimanfaatkan anak-anak di wilayah pedesaan Kabupaten Jombang dengan kegiatan sederhana namun sarat kegembiraan. Di Dusun Tegalsari, Desa Bareng, Kecamatan Bareng, belasan bocah terlihat antusias memainkan kekean atau gasing tradisional, permainan lawas yang kini mulai jarang dimainkan.
Di lapangan terbuka kampung, tawa riang anak-anak bersahutan dengan suara gasing yang berputar di atas tanah. Tak hanya anak-anak, sejumlah remaja hingga orang dewasa ikut meramaikan permainan, menciptakan suasana kebersamaan lintas generasi yang hangat pada Minggu (28/12).
Berbeda dengan liburan ke destinasi wisata yang membutuhkan biaya, permainan gasing justru lahir dari kesederhanaan. Gasing dibuat secara mandiri dengan memanfaatkan sisa kayu di sekitar lingkungan. Potongan kayu tersebut dibentuk, diruncingkan, lalu dililit tali sebagai alat pemutar.
Cara bermainnya pun mudah. Gasing dilemparkan ke tanah dan dibiarkan berputar. Gasing yang mampu berputar paling lama akan dinobatkan sebagai pemenang atau “raja”. Selain itu, permainan adu gasing juga kerap dilakukan untuk menambah keseruan.
Baca juga : Tabrakan Motor dan Truk Box di Ngoro Jombang, Satu Orang Tewas di Lokasi
Selain mengisi waktu libur, permainan tradisional ini menjadi alternatif bagi anak-anak untuk mengurangi ketergantungan pada gawai. Mereka lebih memilih berinteraksi langsung dan bermain bersama di luar rumah dibanding menghabiskan waktu dengan ponsel.
“Kalau libur sekolah main kekean itu seru. Ke tempat wisata mahal, kalau ini gratis dan menyenangkan. Yang putarnya paling lama jadi rajanya,” kata Wisma Putra Ramadhan, salah satu peserta permainan.
Antusiasme anak-anak terhadap gasing tradisional juga membuka peluang usaha kecil bagi warga setempat. Sunari, misalnya, telah menekuni pembuatan mainan tradisional seperti gasing dan layangan selama sekitar tujuh tahun terakhir.
“Sudah tujuh tahun bikin kekean. Anak-anak jadi tidak terus main HP. Biasanya di rumah pegang HP, kalau ini mereka main bareng. Sehari bisa bikin lima gasing, kalau ukuran besar biasanya dua,” ujar Sunari.
Baca juga : ASIAFI Kota Kediri Resmi Luncurkan “Senam Sehat Kediri MAPAN Kutone”
Permainan tradisional yang kembali hadir di tengah libur sekolah ini tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga berperan dalam melestarikan budaya lokal, mempererat kebersamaan warga, serta menawarkan pilihan liburan murah yang edukatif bagi anak-anak desa.***
Reporter : Agung Pamungkas
Editor : Hadiyin






