KEDIRI, LINGKARWILIS.COM — Ketekunan dan konsistensi mengantarkan Sertu Supriyadi, Babinsa Kelurahan Tinalan Koramil 0809-02 Pesantren Kota Kediri, meraih hasil dari usaha ternak kenari merah yang awalnya hanya sekadar hobi. Di sela pengabdian sebagai prajurit TNI, ia kini mampu meraup pendapatan sekitar Rp3 hingga Rp3,5 juta setiap bulan dari budidaya burung kicau tersebut.
Ketertarikan Supriyadi terhadap dunia perburungan telah tumbuh sejak 2009. Namun keseriusannya menekuni ternak kenari mulai berkembang pesat saat ia bertugas di Kodim 0809 Kediri pada 2020. Saat ini, ia mengelola sekitar 12 pasang indukan betina dan 10 ekor pejantan, dengan rata-rata penjualan mencapai 10 hingga 15 ekor kenari setiap bulan.
Kenari merah menjadi jenis paling diminati pasar karena memiliki warna bulu yang mencolok serta kualitas kicauan yang stabil. Semakin pekat warna merahnya, nilai jual burung tersebut pun semakin tinggi.
Baca juga : Persik Kediri Tahan Persib, Marcos Torres Apresiasi Peran Muhammad Firli
“Awalnya memang dari hobi. Saya jalani perlahan dan konsisten, sampai akhirnya bisa berkembang. Kenari merah paling dicari karena warna dan suaranya,” ujar Supriyadi, Selasa (6/1/2026).
Harga jual kenari bervariasi, mulai dari Rp250 ribu untuk anakan hingga Rp1,5 juta untuk pejantan dengan kualitas unggulan. Sebagian besar pembeli datang langsung ke rumah untuk memilih burung sesuai kebutuhan dan selera.
Keberhasilan usaha tersebut tidak lepas dari pola perawatan yang disiplin. Setiap pagi, burung dijemur selama 30 hingga 60 menit, diberi pakan biji pilihan, sayuran, buah, serta tambahan nutrisi alami seperti wortel, jagung, dan paprika merah guna menjaga warna bulu dan stamina. Kebersihan kandang serta ketenangan lingkungan juga dijaga agar kualitas suara tetap optimal.
“Yang terpenting itu sabar, telaten, dan konsisten. Kalau perawatannya terjaga, hasilnya akan mengikuti,” tegasnya.
Meski memiliki usaha sampingan, Supriyadi menegaskan bahwa tugas sebagai Babinsa tetap menjadi prioritas utama. Beternak kenari justru menjadi sarana menyeimbangkan aktivitas sekaligus pelepas penat setelah menjalankan tugas kewilayahan.
Danramil Pesantren, Kapten Inf Dwi Agus Harianto, turut memberikan apresiasi atas kegiatan produktif tersebut, selama tidak mengganggu tugas pokok prajurit.
Kisah Sertu Supriyadi menjadi bukti bahwa hobi yang ditekuni dengan disiplin, manajemen waktu, dan kesungguhan dapat berkembang menjadi sumber penghasilan sekaligus bekal kemandirian di masa depan.***
Reporter : Agus SUlistyo Budi
Editor : Hadiyin





