Meski Tidak Bisa Mendengar, Siswa Inklusi di Tulungagung Sukses Tampilkan Kesenian Tari

Tanpa Bisa Mendengar, Siswa Hambatan Pendengaran di Tulungagung Sukses Tampilkan Kesenian Tari
Para siswa SLB-B Negeri Tulungagung saat menampilkan berbagai kesenian dalam acara Dies Natalis ke 51 (isal)

Tulungagung, LINGKARWILIS.COM – Sejumlah siswa Sekolah Luar Biasa tipe B (SLB-B) Negeri Tulungagung menunjukkan kemampuan artistiknya dengan menampilkan pertunjukan tari dalam peringatan Dies Natalis ke-51 sekolah tersebut. Meski memiliki hambatan pendengaran, para siswa mampu membawakan beragam tarian berkat latihan intensif dan pola komunikasi khusus yang diterapkan oleh pelatih.

Pelatih Tari SLB-B Negeri Tulungagung, Ammy Aulia Renata Anny, menjelaskan bahwa peringatan hari jadi sekolah menjadi ruang ekspresi bagi siswa untuk menampilkan karya seni mereka. Berbagai jenis karya ditampilkan, mulai dari seni musik, seni rupa, hingga seni tari yang dibawakan oleh siswa jenjang SD, SMP, dan SMA.

bayar PBB Kota Kediri

Salah satu penampilan yang mencuri perhatian adalah pertunjukan tari oleh siswa dengan hambatan pendengaran. Tidak hanya menampilkan satu tarian, mereka membawakan empat jenis tari dalam satu rangkaian pertunjukan.

“Kami menampilkan empat tarian yang dibawakan oleh siswa dengan hambatan pendengaran,” ujar Ammy, Selasa (10/2/2026).

Baca juga : BPBD Kota Kediri Evakuasi Tumpukan Pohon Tumbang di Jembatan Ngampel, Aliran Sungai Kembali Normal

Keempat tarian tersebut meliputi tari Gugur Gunung, tari Gambyong, tari Reog Kendang, dan tari Jaranan. Meski beberapa kali terjadi kekeliruan gerak, secara keseluruhan para siswa mampu membawakan tarian dengan cukup baik dan penuh penghayatan.

Menurut Ammy, tari Gugur Gunung menggambarkan nilai gotong royong sebagai bagian dari budaya masyarakat Indonesia. Sementara itu, tari Reog Kendang merupakan tarian khas Tulungagung yang diadaptasi dan dibawakan oleh siswa dengan hambatan pendengaran.

“Ada empat jenis tari yang ditampilkan, yaitu tari Gugur Gunung, tari Gambyong, tari Reog Kendang sebagai tarian khas Tulungagung, dan tari Jaranan,” jelasnya.

Dalam proses latihan, Ammy mengaku harus menerapkan metode pengajaran khusus. Tantangan utama adalah ketidakmampuan siswa untuk mendengar iringan musik, sehingga ia harus berperan sebagai pemandu gerakan baik saat latihan maupun pementasan.

Baca juga : Tiga Hari Dibekali Pembelajaran Mendalam, Guru SMP Jombang Diharapkan Ciptakan Pembelajaran Bermakna

Selain itu, ia juga menggunakan teknik pemberian instruksi secara bertahap sebelum setiap gerakan dilakukan. Khusus untuk tari Jaranan, Ammy menciptakan pola gerak yang lebih mudah dipahami oleh siswa dengan hambatan pendengaran.

“Dibutuhkan latihan dan komunikasi yang intens agar kami bisa saling memahami. Materi tari yang ada tidak bisa langsung diterapkan begitu saja kepada siswa dengan hambatan pendengaran, sehingga diperlukan metode pengajaran yang disesuaikan,” tuturnya.***

Reporter: Mochammad Sholeh Sirri

Editor : Hadiyin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

https://soleco-energy.com/ https://zonawin777top.com/ https://dwpcabdinkabmlg.com/bidang-sosial-budaya-eval/ https://lingkarwilis.com/mail/ https://onlymyenglish.com/about-us/ https://www.ramanhospital.in/about.html https://umbi.edu/visit/ https://dkpbuteng.com/ https://rsiaadina.com/ https://inl.co.id/about-us/ situs toto