PONOROGO, LINGKARWILIS.COM – Jembatan gantung penghubung Kabupaten Ponorogo dan Kabupaten Trenggalek yang berada di Dusun Purworejo, Desa Gedangan, Kecamatan Ngrayun, putus sejak Januari 2026 dan hingga kini belum diperbaiki.
Jembatan di atas Sungai Jabak tersebut menghubungkan Dusun Purworejo, Desa Gedangan, Kecamatan Ngrayun, Ponorogo dengan Desa Depok, Kecamatan Panggul, Kabupaten Trenggalek. Jembatan putus setelah diterjang banjir bandang, sehingga akses utama warga terputus total.
Akibatnya, warga di wilayah perbatasan terpaksa membuat kereta gantung sederhana secara swadaya untuk menyeberangi sungai demi menjalankan aktivitas sehari-hari, termasuk bekerja, sekolah, dan mengakses layanan kesehatan.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Kawasan Permukiman Kabupaten Ponorogo, Jamus Kunto, menegaskan bahwa pihaknya belum bisa melakukan pembangunan karena status jembatan tersebut bukan aset pemerintah kabupaten.
“Lokasinya berada di perbatasan dua kabupaten dan bukan jalan kabupaten maupun jalan poros. Sehingga kewenangannya tidak berada di Pemkab Ponorogo,” ungkapnya.
Ia menambahkan, kondisi tersebut telah dilaporkan kepada pimpinan daerah untuk dicarikan solusi lintas wilayah, termasuk kemungkinan koordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Trenggalek maupun pemerintah provinsi.
“Kami sudah sampaikan kondisi di lapangan beserta kendalanya. Selanjutnya menunggu arahan pimpinan dan koordinasi lintas daerah,” imbuhnya.
Sementara itu, warga tidak memiliki banyak pilihan selain memanfaatkan kereta gantung darurat yang dibuat secara swadaya. Alat sederhana tersebut digunakan secara bergantian untuk mengangkut orang maupun barang melintasi sungai.
Baca juga : Pantauan Long Weekend, Arus Lalu Lintas Kota Kediri Terpantau Aman dan Lancar
Suyanto, penjaga kereta gantung, berharap pemerintah segera mengambil kebijakan agar jembatan penghubung tersebut bisa segera dibangun kembali. Menurutnya, akses itu sangat vital untuk mobilitas ekonomi, pendidikan, hingga layanan kesehatan warga perbatasan.
“Kalau tidak pakai itu, kami tidak bisa ke ladang. Mau mutar jauh sekali. Meski ngeri, ya terpaksa kami pakai setiap hari,” tutupnya.***
Reporter: Sony Dwi Prastyo
Editor: Hadiyin





