JOMBANG, LINGKARWILIS.COM – Pemerintah Kabupaten Jombang melalui Dinas Kesehatan masih melakukan penelusuran terkait gangguan kesehatan yang dialami puluhan santri di salah satu pondok pesantren di Kecamatan Mojoagung.
Langkah penelusuran dilakukan dengan mengumpulkan sejumlah sampel, mulai dari sisa makanan yang dikonsumsi hingga muntahan para korban. Seluruh sampel tersebut rencananya akan diperiksa di Balai Besar Laboratorium Kesehatan Surabaya untuk memastikan penyebab kejadian.
Kepala Dinas Kesehatan Jombang, Hexawan Tjahja Widada, mengatakan pengiriman sampel dijadwalkan pada Jumat (6/3/2026) untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut di laboratorium.
“Besok insyaallah semua sampel kami kirim ke Balai Besar Laboratorium Kesehatan di Surabaya, baik dari muntahan maupun dari makanan seperti rawon dan telur, untuk memastikan penyebabnya,” ujarnya saat ditemui di RSU PKU Muhammadiyah Mojoagung, Kamis (5/3/2026) malam.
Baca juga : Comeback Dramatis, Persik Kediri Taklukkan PSBS Biak 2-1 di Stadion Brawijaya
Sebelum pengujian laboratorium dilakukan, tim kesehatan telah lebih dahulu melakukan pemeriksaan cepat terhadap makanan yang diduga dikonsumsi para santri. Dari hasil pemeriksaan awal tersebut, tidak ditemukan indikasi adanya kandungan bahan kimia berbahaya.
“Rapid test adalah pemeriksaan cepat saat makanan masih dalam kondisi baru. Hasilnya negatif untuk bahan kimia seperti arsen, formalin, sianida, maupun nitrit,” jelasnya.
Meski hasil uji cepat menunjukkan negatif, pemeriksaan lanjutan tetap dilakukan untuk memperoleh kepastian ilmiah mengenai penyebab gangguan kesehatan tersebut. Hexawan menjelaskan, metode uji kultur di laboratorium memerlukan waktu cukup lama hingga hasilnya dapat diketahui.
“Untuk pemeriksaan kultur di laboratorium, minimal membutuhkan waktu sekitar 10 hari sampai hasilnya keluar,” katanya.
Selain memeriksa sampel makanan dan muntahan korban, tim kesehatan juga mengambil sampel air dari lingkungan pondok pesantren guna memastikan tidak ada faktor lain yang menjadi pemicu kejadian tersebut.
“Sampel air di lingkungan pondok juga sudah kami ambil. Jadi seluruh sampel yang diperlukan sudah siap dan akan dikirim ke Surabaya,” terangnya.
Baca juga : Ngabuburit Budaya di Disbudparpora Kediri, Penampilan Reog Meriahkan Acara dan 2.000 Takjil Dibagikan
Terkait asal telur yang turut dikonsumsi para santri, Hexawan menyebut berdasarkan keterangan awal dari pihak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), bahan makanan tersebut dibagikan pada hari yang sama.
“Kalau dari keterangan pihak SPPG, telurnya dibagikan hari ini,” ujarnya.
Sementara mengenai biaya perawatan para santri yang sempat mendapatkan penanganan medis, pihaknya menyebut penanganan masih bersifat darurat karena penyebab kejadian belum dapat dipastikan.
“Karena kita belum memastikan penyebabnya, penanganan masih dalam kondisi darurat. Sumbernya bisa dari makanan pondok atau faktor lain, sehingga semuanya masih menunggu hasil pemeriksaan,” pungkasnya.***
Reporter: Hadiyin
Editor: Hadiyin





