Melemahnya Nilai Tukar Rupiah Berdampak pada Produsen Tahu di Tulungagung, Ukuran Produk Terpaksa Diperkecil

Melemahnya Nilai Tukar Rupiah Berdampak pada Produsen Tahu di Tulungagung, Ukuran Produk Terpaksa Diperkecil
Produsen tahu di Desa/Kecamatan Gondang, Tulungagung saat mengolah kedelai untuk dijadikan tahu (isal)

Tulungagung, LINGKARWILIS.COM – Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat berdampak pada pelaku usaha tahu di Kabupaten Tulungagung. Kenaikan harga kedelai impor sebagai bahan baku utama produksi membuat para pengrajin harus mencari cara agar usahanya tetap bertahan.

Salah seorang produsen tahu di Desa Gondang, Kecamatan Gondang, Tulungagung, Kuswoyo, mengatakan harga kedelai impor terus mengalami kenaikan dalam beberapa bulan terakhir seiring melemahnya kurs rupiah terhadap dolar.

bayar PBB Kota Kediri bayar PBB Kota Kediri

Menurutnya, sekitar empat bulan lalu harga kedelai impor masih berada di kisaran Rp9.500 per kilogram. Namun kini harganya telah naik menjadi sekitar Rp10.800 per kilogram.

“Kenaikan harga kedelai mulai terasa sejak nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar. Kami khawatir harganya masih akan terus naik hingga mencapai Rp12 ribu per kilogram,” ujar Kuswoyo, Senin (8/6/2026).

Baca juga :Β Bulog Tulungagung Percepat Penyaluran Bantuan Pangan dan Gelontorkan Beras SPHP untuk Jaga Stabilitas Harga

Kuswoyo menjelaskan, selama ini usahanya mengandalkan kedelai impor sebagai bahan baku utama produksi tahu. Selain pasokannya lebih stabil dan melimpah, kedelai impor juga dinilai memiliki daya simpan yang lebih lama dibandingkan kedelai lokal.

Meski demikian, ia mengakui kualitas kedelai lokal juga cukup baik dari segi cita rasa. Hanya saja, ketersediaannya di pasaran masih terbatas dan belum mampu memenuhi kebutuhan produksi secara berkelanjutan.

“Kami menggunakan kedelai impor karena stoknya lebih banyak dan kualitasnya cukup baik untuk produksi tahu,” katanya.

Kenaikan harga bahan baku tersebut memaksa pelaku usaha melakukan berbagai penyesuaian agar biaya produksi tetap terkendali. Salah satu langkah yang diambil adalah tidak menaikkan harga jual, tetapi mengurangi ukuran tahu yang dipasarkan kepada konsumen.

Kuswoyo mengungkapkan, setiap hari usahanya mengolah sekitar dua kuintal kedelai impor. Jika sebelumnya hasil produksi mencapai sekitar 150 potong tahu berukuran normal, kini jumlahnya meningkat menjadi sekitar 160 potong dengan ukuran yang lebih kecil dan tetap dijual seharga Rp1.000 per biji.

Baca juga :Β Sebanyak 38 ASN Kota Kediri Terima SK Kenaikan Pangkat, Wali Kota : Harus Diiringi Peningkatan Kualitas Pelayanan

“Kami memilih mempertahankan harga jual, tetapi ukuran tahu sedikit diperkecil agar usaha tetap berjalan dan pelanggan tidak terlalu terbebani,” jelasnya.

Hasil produksi tahu tersebut dipasarkan ke sejumlah wilayah di Tulungagung, di antaranya Pasar Campurdarat, Ngentrong, Besole, dan Ngemplak. Kuswoyo berharap harga kedelai segera stabil sehingga pelaku usaha kecil tidak semakin tertekan oleh tingginya biaya produksi.***

Reporter: Mochammad Sholeh Sirri
Editor: Hadiyin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *