Tradisi 1 Suro, Napak Tilas hingga Ribuan Peziarah Padati Pesarean Eyang Djoego Gunung Kawi

Tradisi 1 Suro, Napak Tilas hingga Ribuan Peziarah Padati Pesarean Eyang Djoego Gunung Kawi
Tradisi 1 Suro, Napak Tilas hingga Ribuan Peziarah Padati Pesarean Eyang Djoego Gunung Kawi (Arief)

Malang, LINGKARWILIS.COM – Perayaan malam 1 Suro atau 1 Muharam 1448 Hijriah di kawasan Pesarean Eyang Djoego, Gunung Kawi, Desa Wonosari, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang, berlangsung khidmat dan semarak, Selasa (16/6/2026) dini hari. Ribuan peziarah dan masyarakat memadati area pesarean untuk mengikuti berbagai rangkaian tradisi budaya dan keagamaan yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Beragam kegiatan digelar dalam peringatan tersebut, mulai dari pertunjukan tari tradisional, napak tilas, arak-arakan ogoh-ogoh, pagelaran wayang kulit, hingga tradisi tumpengan. Seluruh rangkaian acara menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat yang datang dari berbagai daerah.

bayar PBB Kota Kediri bayar PBB Kota Kediri

Eyang Djoego, yang memiliki nama asli Kyai Zakaria II, dikenal sebagai tokoh spiritual dan ulama dari Keraton Mataram Surakarta. Dalam catatan sejarah, beliau turut berjuang bersama Pangeran Diponegoro melawan penjajahan Belanda.

Baca juga : URC Satreskrim Polres Malang Ungkap Pencurian di Gudang Resto, Dua Sopir Diamankan

Setelah perang berakhir, Eyang Djoego melanjutkan perjalanan dakwahnya ke Jawa Timur hingga akhirnya wafat pada 22 Januari 1871 atau bertepatan dengan 1 Selo 1799 Dal.

Sebagai bentuk penghormatan terhadap jasa dan keteladanan Eyang Djoego, pengelola Pesarean Gunung Kawi setiap tahun menggelar tradisi budaya dan religi, terutama saat memasuki 1 Muharam.

Salah satu agenda utama adalah Kirab Sesaji dan Penyekaran Agung. Ratusan peserta mengenakan busana adat Jawa serba hitam, lengkap dengan blangkon bagi laki-laki dan kebaya hitam untuk perempuan. Mereka membawa sesaji dari area gapura menuju Masjid Agung Raden Mas Iman Soedjono sebelum melanjutkan prosesi menuju kompleks makam Eyang Djoego.

Kirab berlangsung khidmat dengan iringan gamelan Jawa yang menambah suasana sakral. Setibanya di kompleks pesarean, para peserta bersama-sama melakukan tabur bunga dan memanjatkan doa sebagai bentuk penghormatan kepada sosok yang dinilai berjasa dalam penyebaran nilai-nilai keagamaan dan kebudayaan Jawa.

Selain prosesi kirab, peringatan tahun ini juga diisi dengan pembacaan tahlil, Surat Yasin, doa bersama, pengajian umum, serta pertunjukan kesenian tradisional seperti karawitan, tembang macapat, banjari, dan terbang jidor.

Baca juga : Mapak 1 Suro, Warga Mrican Keliling Kampung Sambil Bershalawat dan Doakan Keselamatan Kota Kediri

Perwakilan pengelola Pesarean Gunung Kawi mengatakan bahwa peringatan 1 Muharam tidak hanya menjadi momentum menyambut Tahun Baru Islam, tetapi juga sarana melestarikan warisan budaya leluhur. Salah satu tradisi yang masih dipertahankan adalah pembakaran ogoh-ogoh sebagai simbol tolak bala.

“Tradisi malam 1 Muharam terus kami lestarikan agar generasi muda mengenal sejarah, budaya, dan keteladanan Eyang Djoego. Selain menjadi kegiatan religi, agenda ini juga menjadi bagian dari upaya nguri-uri budaya Jawa,” ujarnya.

Peringatan tersebut juga memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar. Kehadiran ribuan peziarah dari berbagai daerah turut menggerakkan sektor perdagangan, kuliner, hingga jasa di kawasan wisata religi Gunung Kawi.

Dengan perpaduan nilai spiritual, budaya, dan kebersamaan, tradisi malam 1 Suro di Pesarean Eyang Djoego kembali menjadi salah satu agenda budaya dan religi terbesar di Kabupaten Malang yang terus menarik perhatian masyarakat dari berbagai penjuru Indonesia.***

Reporter : Arief Juli Prabowo
Editor : Hadiyin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *