Sambut Muktamar ke-35 NU, Pelukis Jombang Abadikan Para Muassis Lewat Kanvas

Dari foto buram hitam putih kuas cat seniman Jombang Lukmanul Hakim melukis muassis pendiri Nahdlatul Ulama (NU) di kediamannya di Bandung Diwek, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, Minggu (2/8/2026). (Taufiqur Rachman).
Dari foto buram hitam putih kuas cat seniman Jombang Lukmanul Hakim melukis muassis pendiri Nahdlatul Ulama (NU) di kediamannya di Bandung Diwek, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, Minggu (2/8/2026). (Taufiqur Rachman)

Jombang, LINGKARWILIS.COM – Menjelang pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), antusiasme menyambut agenda besar tersebut turut ditunjukkan oleh para seniman di Kabupaten Jombang. Salah satunya Lukmanul Hakim, pelukis asal Jombang yang menuangkan sosok para muassis atau pendiri NU ke dalam sejumlah lukisan berukuran besar.

Lukman mengerjakan karya-karyanya di kediamannya di Desa Bandung, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang. Saat ditemui, ia tampak fokus menyelesaikan sejumlah lukisan yang menampilkan tokoh-tokoh penting NU, di antaranya KH Hasyim Asy’ari, KH Abdul Wahab Hasbullah, KH Bisri Syansuri, serta sejumlah kiai lainnya.

Menurut Lukman, karya tersebut menjadi bentuk kegembiraan sekaligus penghormatan terhadap pelaksanaan Muktamar NU ke-35 yang dijadwalkan berlangsung di Jombang.

“Sebagai masyarakat Jombang dan warga Nahdliyin, saya ingin ikut menyambut muktamar melalui karya. Saya memilih melukis tokoh-tokoh muassis NU sebagai bentuk penghormatan atas jasa mereka,” ujar pria yang akrab disapa Cak Luk tersebut, Minggu (2/8/2026).

Baca juga :Β Kala Senja di Bumi Panjalu Jadi Ruang Guru Lestarikan Cerita Rakyat Kediri

Ia berencana terus menambah koleksi lukisan tokoh pendiri NU selama rangkaian muktamar berlangsung. Hingga kini, sedikitnya delapan karya dengan tema Muktamar NU telah diselesaikan dan beberapa di antaranya sudah beredar di tengah masyarakat.

Salah satu karya yang tengah dikerjakan memiliki ukuran sekitar 2 x 1,80 meter. Lukisan tersebut dibuat di atas kanvas menggunakan cat akrilik. Proses pengerjaan sudah berlangsung sekitar satu minggu dan saat ini mencapai progres kurang lebih 60 persen.

Namun, melukis tokoh-tokoh pendiri NU memiliki tantangan tersendiri. Lukman mengaku kesulitan mendapatkan dokumentasi visual dengan kualitas baik karena sebagian foto para tokoh yang tersedia merupakan foto hitam putih.

“Prosesnya diawali dengan mencari berbagai referensi, mempelajari anatomi wajah, kemudian melakukan rekonstruksi berdasarkan literatur dan foto-foto yang ada agar hasilnya mendekati sosok aslinya,” jelasnya.

Selain sebagai karya seni, Lukman berharap lukisan tersebut nantinya dapat berkolaborasi dengan panitia Muktamar NU, baik melalui agenda pameran maupun lelang. Ia juga melihat karya tersebut berpotensi menjadi cendera mata khas Jombang bagi peserta muktamar yang datang dari berbagai daerah.

Baca juga :Β Minat Baca Masyarakat di Perpustakaan Daerah Kabupaten Kediri Tetap Tinggi

“Barangkali nanti bisa menjadi suatu cendera mata untuk peserta yang ribuan orang, orang-orang yang berminat untuk mendapatkan, memperoleh kenangan-kenangan dari Jombang,” ungkapnya.

Untuk lukisan berukuran besar, Lukmanul mematok harga awal sekitar Rp40 juta hingga Rp45 juta. Sementara karya dengan ukuran lebih kecil ditawarkan mulai Rp6 juta, tergantung ukuran dan tingkat pengerjaannya.

Lukisan-lukisan tersebut dikerjakan dengan aliran realisme. Lukman memilih cat akrilik karena lebih cepat mengering sehingga membantu mempercepat proses pengerjaan tanpa mengesampingkan detail objek yang ditampilkan.

“Kalau secara aliran, ini namanya realis. Catnya acrylic, saya pakai acrylic. Agar cepat kering,” pungkasnya.***

Reporter: Taufiqur Rachman

Editor : Hadiyin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *