Ponorogo, LINGKARWILIS.COM – Peringatan 100 tahun Pondok Modern Darussalam (PMD) Gontor menjadi momentum untuk menegaskan besarnya peran pesantren dalam perjalanan bangsa Indonesia. Hal tersebut disampaikan Wakil Ketua MPR RI, Hidayat Nur Wahid, saat menghadiri rangkaian Milad Seabad Gontor di Ponorogo, Sabtu (20/6/2026).
Alumnus Gontor angkatan 1978 itu menegaskan bahwa pesantren memiliki kontribusi besar sejak masa perjuangan kemerdekaan hingga era pembangunan saat ini. Menurutnya, keberadaan pesantren telah menjadi bagian penting dalam sejarah bangsa dan tidak dapat dipisahkan dari perjalanan Indonesia.
“Pesantren telah ikut membangun Indonesia sejak masa awal kemerdekaan hingga sekarang. Karena itu, perannya menjadi bagian penting dalam sejarah bangsa,” ujar Hidayat. Ia menilai, selama satu abad berdiri, Gontor telah memberikan sumbangsih besar bagi perkembangan pendidikan Islam di Tanah Air.
Dari pesantren yang bermula di Ponorogo tersebut, kini telah lahir ratusan pondok pesantren yang tersebar di berbagai daerah. Menurutnya, capaian tersebut merupakan amal kebajikan yang memberikan manfaat luas, tidak hanya bagi dunia pendidikan Islam tetapi juga bagi masyarakat dan negara.
Baca juga : Pemkab Ponorogo Siapkan Rp104 Miliar untuk Perbaikan 82 Ruas Jalan pada 2026
“Yang diwariskan Gontor bukan hanya lembaga pendidikan, tetapi juga karya dan ilmu yang terus memberikan manfaat bagi umat dan bangsa,” katanya.
Hidayat juga menyoroti kiprah para alumni Gontor yang telah berkontribusi di berbagai bidang, termasuk menduduki posisi strategis di tingkat nasional. Bahkan, sejumlah tokoh alumni pernah dipercaya mengemban jabatan penting, salah satunya sebagai Ketua MPR RI.
Selain itu, kalangan pesantren dinilai memiliki andil dalam proses perubahan konstitusi pascareformasi, terutama dalam memperkuat nilai-nilai keagamaan dalam sistem pendidikan nasional.
“Dulu belum ada frasa iman, takwa, dan akhlak mulia dalam Undang-Undang Dasar. Setelah reformasi, nilai-nilai tersebut menjadi bagian dari amanat konstitusi,” jelasnya.
Sementara itu, Wakil Menteri Agama RI, Muhammad Syafi’i, menyampaikan apresiasi Presiden Prabowo Subianto atas perjalanan satu abad PMD Gontor.
Menurutnya, keberhasilan pesantren tersebut bertahan hingga usia 100 tahun menjadi bukti kuatnya nilai keikhlasan, kemandirian, dan semangat gotong royong yang terus dijaga.
Baca juga : Munas-Konbes NU 2026 Resmi Dibuka di Kediri, Ini Penjelasan Sekjen PBNU, Gus Ipul
“Presiden memberikan apresiasi atas perjalanan panjang Gontor. Seratus tahun ini menunjukkan bahwa nilai keikhlasan, kemandirian, dan gotong royong tetap hidup dan berkembang,” ungkap Syafi’i.
Ia menegaskan bahwa sejarah Indonesia juga tidak dapat dilepaskan dari kiprah pesantren.
Banyak tokoh bangsa yang lahir dari lingkungan pesantren dan berperan dalam perjuangan maupun pembangunan negara. Namun demikian, Syafi’i mengingatkan adanya tantangan yang dihadapi dunia pesantren saat ini. Salah satunya adalah munculnya berbagai pemberitaan negatif yang berpotensi memengaruhi kepercayaan masyarakat terhadap lembaga pendidikan berbasis pesantren.
Menurutnya, isu seperti perundungan maupun kekerasan yang kerap mencuat menjelang penerimaan santri baru dapat berdampak pada menurunnya minat sebagian masyarakat untuk menyekolahkan anak di pesantren. “Saat musim penerimaan santri baru, berbagai isu negatif sering muncul dan berdampak pada penurunan jumlah pendaftar di beberapa pondok pesantren,” ujarnya.
Karena itu, Kementerian Agama berupaya memperkuat citra positif pesantren agar masyarakat semakin memahami peran strategis lembaga tersebut dalam membangun karakter generasi muda. Di akhir sambutannya, Syafi’i berharap pesantren terus melahirkan generasi pemimpin yang berintegritas, jujur, dan memiliki kepedulian terhadap masyarakat.
Di sisi lain, pesantren juga didorong mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi tanpa meninggalkan nilai-nilai akhlak sebagai fondasi utama pendidikan.
“Penguasaan teknologi penting, tetapi akhlak harus tetap menjadi dasar. Jika keduanya berjalan seiring, pesantren akan terus menjadi kekuatan besar bagi kemajuan Indonesia,” pungkasnya. ***
Reporter : Sony Dwi Prastyo
Editor : Hadiyin





