Pengasuh Tebuireng Gus Kikin: Jabatan di NU Merupakan Amanah, Bukan Tujuan yang Dikejar

Pengasuh Tebuireng Gus Kikin: Jabatan di NU Merupakan Amanah, Bukan Tujuan yang Dikejar
Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin). (istimewa)

Jombang, LINGKARWILIS.COM – Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng Jombang, KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin, menegaskan pentingnya Nahdlatul Ulama (NU) membangun masa depan organisasi dengan berlandaskan adab, karakter, persaudaraan, dan profesionalisme.

Menurut Gus Kikin, jabatan di lingkungan organisasi NU bukanlah tujuan yang harus dikejar dengan ambisi berlebihan. Sebaliknya, setiap jabatan merupakan amanah yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab dan semangat pengabdian.

“Karena itu, kepemimpinan harus dijalankan dengan tanggung jawab dan pengabdian,” ujar Gus Kikin, Jumat (28/8/2026).

Cicit pendiri NU, Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari itu menyampaikan bahwa NU harus tetap berpegang pada Qanun Asasi sebagai landasan dan pedoman dalam menjalankan kehidupan organisasi. Selain itu, nilai-nilai kemanusiaan juga harus terus menjadi bagian penting dalam perjalanan NU.

“Jabatan itu amanah, tidak boleh terlalu ambisi terhadap jabatan,” tegasnya.

Baca juga :Β Puluhan Warga Dusun Parimono Datangi Mapolres Jombang, Dampingi Ketua RT dan Nazir Wakaf

Gus Kikin juga mengingatkan agar NU tidak terseret terlalu jauh ke dalam kepentingan politik praktis. Meski demikian, ia menilai NU tetap memiliki peran penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Menurutnya, NU sebagai kekuatan masyarakat sipil harus terus mengambil peran dalam menjaga persatuan, memperkuat kebangsaan, serta memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan.

“NU tidak bisa lepas dari politik. Tapi agendanya politik kebangsaan dan kemanusiaan. Hal itu harus melampaui segala kepentingan praktis,” kata Gus Kikin.

Selain persoalan arah organisasi dan kebangsaan, Ketua PWNU Jawa Timur itu juga menekankan pentingnya NU menjadi ruang bersama bagi seluruh warganya.

Penguatan organisasi, menurut dia, tidak hanya diukur dari aspek kelembagaan maupun kemampuan intelektual. Pembentukan karakter serta kepekaan terhadap persoalan kemanusiaan juga menjadi hal yang tidak kalah penting.

“NU harus mempunyai hati, kita harus memperkuat dan mengasah hati kita,” jelasnya.

Baca juga :Β Puncak Festival Lansia Kabupaten Kediri 2026, Seribu Lansia Antusias Ikuti Senam di RTH SLG

Lebih lanjut, Gus Kikin menilai generasi muda NU harus memiliki kesiapan dalam menghadapi berbagai tantangan di tengah perkembangan zaman dan dinamika global yang semakin kompleks.

Kemampuan intelektual perlu terus dikembangkan. Namun, kecerdasan tersebut harus berjalan seiring dengan adab dan karakter yang baik.

“Kita harus mempunyai intelegensia. Tetapi intelektual itu harus dibungkus dengan adab,” pungkasnya.***

Reporter: Taufiqur Rachman

Editor : Hadiyin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *