GAZA, LINGKARWILIS.COM – Gerakan Hamas menyatakan kesediaannya untuk membebaskan sepuluh orang sandera sebagai bagian dari upaya mencapai kesepakatan gencatan senjata di Jalur Gaza yang masih dilanda konflik.
Dilansir dari laman Minanews, pernyataan ini disampaikan Hamas setelah berlangsungnya serangkaian perundingan tidak langsung selama empat hari antara Hamas dan Israel, yang dimediasi oleh Qatar dengan dukungan aktif dari Amerika Serikat. Informasi tersebut dilansir oleh Al-Jazeera, Kamis (10/7/2025).
Menurut Hamas, pembebasan sandera merupakan bagian dari skema pertukaran kemanusiaan dalam kerangka perundingan penghentian sementara agresi militer. Pemerintah AS pun menyatakan harapan bahwa kesepakatan untuk menghentikan pertempuran selama 60 hari dapat tercapai dalam waktu dekat.
Baca juga : PDAM Kota Kediri Beri Diskon Pemasangan Baru Hingga 30 Persen, Berlaku Tiga Bulan
Sejak serangan Hamas ke wilayah perbatasan Israel pada Oktober 2023, sebanyak 251 orang dilaporkan disandera. Dari jumlah tersebut, menurut militer Israel, sekitar 49 masih ditahan, dan sedikitnya 27 di antaranya dipastikan telah meninggal dunia.
Dalam pernyataan terbarunya, Hamas menegaskan masih ada sejumlah poin krusial yang menjadi ganjalan dalam perundingan. Di antaranya, permintaan agar bantuan kemanusiaan bisa mengalir ke Gaza tanpa hambatan, penarikan penuh pasukan Israel dari wilayah Gaza, serta jaminan menuju perdamaian yang bersifat menyeluruh dan berkelanjutan.
Upaya perundingan ini merupakan kelanjutan dari proses panjang yang dimulai sejak konflik kembali memanas pada 7 Oktober 2023, ketika Hamas meluncurkan serangan besar ke wilayah selatan Israel yang kemudian dibalas dengan agresi militer skala besar oleh pasukan Zionis ke Gaza.
Baca juga : Persik Kediri Rekrut Lucas Gama, Eks Bek Barito Putera untuk Perkuat Lini Belakang
Sebelumnya, gencatan senjata sempat tercapai pada akhir November 2023 namun hanya berlangsung singkat dan disertai dengan pertukaran tahanan.
Kali ini, proposal yang tengah dibahas mencakup penghentian kekerasan selama dua bulan, pembebasan puluhan sandera, akses bantuan kemanusiaan secara terbuka, serta perundingan lanjutan untuk solusi jangka panjang konflik Israel–Palestina.
Qatar, Mesir, dan Amerika Serikat terus memainkan peran penting sebagai penengah dalam negosiasi, mendorong terciptanya kesepakatan damai yang tidak hanya bersifat sementara, tetapi juga menjawab akar persoalan yang sudah berlangsung puluhan tahun.***
Editor : Hadiyin





